Sunday, November 12, 2017

Kumpulan Puisi XXVIII

Kumpulan Puisi XXVIII

Tak Tergenggam
Sudah berulang kali tangan ini menggenggamnya
Tapi selalu saja terlepas begitu saja
Setiap kali tangan coba erat mencengkramnya
Ia pun memilih jatuh lagi dengan suara dentingan yang lembut
Ada hasrat yang amat kuat untuk bisa membawanya pulang
Ingin dipajang agar selalu bisa memandanginya
Sambil menyunggingkan senyum yang rapuh
Dan sepertinya ia tak hendak bersama genggaman tangan ini
Memilih diam disitu dengan gaya membatu.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Kicauan Burung
Pagi masih buta yang diselimuti sisa malam
Sudah terdengar kicauan burung dari balik ranting pohon
Bersahutan yang entah apa dipercakapan mereka
Tiada satupun yang hendak mengalah agar diam
Walau suara ayam menimpali sekalipun burung itu masih saja berkicau
Mungkin saja anaknya hilang atau sangkarnya rusak
Tapi kicauannya itu sudah mengganggu tidur yang masih dihimpit rasa nyenyak.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Terabaikan
Dalam kerumunan orang yang lalu lalang
Sibuk menunduk melihat tarian kata dalam gadget digenggamnya
Ada seorang peminta yang berjalan sambil membungkuk
Dan berkata: “Bagi sedekahnya”
Tapi tiada satu daun telinga pun yang membukakan pintu ucapan itu masuk
Diucapkan peminta itu sampai sore diam membisu
Tetap plasik kresek untuk menambung recehan tanpa bunyi
Seperti ia sedang berada di tengah-tengah kuburan
Ramai tapi tak satu makam pun sedia bangkit menjumpainya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016


Dibawa Hanyut
Deras deru suara pedih keluar dari mulut yang sengsara
Berteduh dalam peratapan duka yang dihujani dengan rasa luka
Bergema bibirnya tak satupun ucapan ada yang keluar
Dengan mimik yang juga tak memiliki setetespun air mata
Meringkuk dalam gelap menuggu banjir kesunyian segera membawanya
Hanyut dalam hidup yang hampa dari makna.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Suara Siapa Itu?
Mencari dalam mata yang diselumti gelap
Cahaya jalan tiada lagi mampu menuntun jalan
Berjalan berangkak dengan tangan mengecap dinginnya tanah
Tapi ada yang bersuara sayup seperti berbisik
Lebar-lebar daun telinga membuka pintu agar suara itu terdengar
Sebagai pemandu untuk melewati lorong gulita ini
Sambil guratan hatipun ikut bertanya pada suara yang menuntun
Suara Siapa itu?
Terucap dari bibir yang lama dikatub amarah.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Tersenyumlah
Getirnya hidup ini telah memenjarakan kebahagiannya
Hari-hari yang dilewati hanya disapa dinginnya raut wajah
Seperti orang yang lupa dengan caranya tersenyum
Hilangnya senyuman yang dulu selalu terpancar dari sosoknya
Raib bersama mendung awan hitam di langit yang tak tergapai
Hingga membuat dirinya seakan tersiksa
Setiap kali melewati detik-detik hdupnya
Tolonglah, tersenyum lagi.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Pelukan Mu
Pelukan mu mendamaikan hati yang gelisah
Yang tak mengerti hendak mengarah kemana
Kalut dan amarah menjadi raja di jiwa ini
Dan keputusasaan memberikan wejangan menyedihkan
Engkau ada tanpa rasa sedikitpun takut
Ceria dengan sapaan tangan yang langsung
Mendekap diri ini dalam pelukan mu
Yang telah dirindukan.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XXVII

Kumpulan Puisi XXVII

Sinabung Tak Pernah Tidur
Sinabung sepertinya tak pernah ingin tidur
Kembali ia bersua mengeluarkan asap berdebu keberbagai penjuru
Sampai kepemukiman warga yang telah lama mengungsi
Membuat rasa takut semakin menyeruak tak ingin pergi
Orang-orang yang dikitari oleh Sinabung yang masih bernyanyi
Hanya ingin meminta agar sebentar saja Sinabung dapat tertidur.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Kebakaran Hutan
Sudah berapa banyak hutan yang telah hangus terbakar
Mungkin tak bisa lagi dihitung dengan jari yang ada di tangan
Hutan yang dikunyah oleh api yang memberangusnya
Hidupkan ketakutan pada binatang yang harus mengungsi menjauh
Dan juga menjangkiti penyakit sesak pada manusia yang bernafas
Karena udara bersih tak lagi bisa dicari ikut berbaur bersama asap yang memeluknya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Ujian pada Rakyat
Tidak hanya para pemimpin yang dapat ujian dari Tuhan
Untuk mengurusi rakyatnya agar tak sampai lapar dan bisa sejahtera
Dan juga agar pemimpin dapat amanah dalam memikul beban dipundaknya
Tapi pada rakyat pun sepertinya Tuhan ingin juga menguji
Menguji atas pemimpin yang telah dipilih yang melenceng dari fitrah janji
Yang membuat rakyat itu sengsara tak bisa merasakan nikmat apa-apa
Kecuali hanya lapar dan tidur beralaskan tikar yang berlobang
Sehingga ujian manis tersebut akan memberi pelajaran pada rakyat
Untuk lebih arif dalam menitipkan harapannya pada calon pemimpinnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Sampah di Mana-mana
Tak juga terlihat kota-kota ini tampak indah nan asri
Yang karena disesaki oleh sampah bergumal di mana-mana
Tak juga ada yang terpikir untuk mengutipnya agar bersih
Dibiarkan begitu saja hingga berpikir dengan sendirinya sampah itu hilang
Dan membuat sampah itu menghambat apa saja yang ingin lewat
Termasuk air yang hanya pamit ingin mengalir ikut terhalau
Hingga menjadikan kota-kota itu sering ditumpahi banjir yang sulit untuk surut.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Tak Pernah Redup
Lilin yang sudah mulai habis termakan gelap
Kini sinarnya pun ikut terkikis dan lenyap dalam sayu
Dan yang diteranginya ketika ia menyala harus kembali melihat pekatnya gelap
Tapi tidak bagi yang melindungi orang tersayangnya dengan senyum tulus
Mendekap dalam usaha yang tak pernah surut dan redup termakan waktu
Hingga yang dilindungi begitu terjaga dalam terangnya kebahagiaan
Sampai malam lupa berganti yang melindungi tetap terang selamanya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Daging Sapi Mahal
Sejak kapan daging sapi itu terbilang murah harganya
Mungkin hanya saat hari raya Idul Adha daging dibilang murah
Semua orang dapat memakannya entah siapapun ia
Tapi diluar itu tiada lagi daging sapi murah harganya
Terus melejit tinggi hingga seperti pajangan mewah di toko berkelas
Seperti terpatri bagi yang tidak punya uang untuk bisa mencicipinya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Dengan Rindu
Dengan katayang dirangkai dari kegundahan yang menggelegak
Terus mengasah tangan merangkai kata sampai tak tahu malam sudah larut
Kata yang dirangkai untuk bisa dibaca dengan hati yang bisa damai
Damai untuk tidak lagi khawatir akan nasib yang menulis untaian kata itu
Dalam kata yang ditulis itu berisi harapan untuk bisa berjumpa lagi
Yang memberikan kabar bahagia demi menghibur rindu.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Entah Siapa
Entah siapa yang merdeka di bumi pertiwi ini?
Entah orang miskin entah juga itu orang-orang kaya
Entah juga siapa yang menghirup aroma kemerdekaan?
Entah orang yang selalu tertindas entah pula orang yang biasa menindas
Dan entah pada siapa merdeka itu bisa berkumandang?
Entah pada semua orang atau hanya milik satu dua orang saja
Lalu, entah lah.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.
Kumpulan Puisi XXVI

Kumpulan Puisi XXVI

Sepenggal Kata
Tak mudah untuk mengurai kata yang sepenggal ini
Dalam maknanya seperti menyelamani laut yang penuh kata
Mencerna tiap huruf dari kata itu membuat malam begitu cepat berubah
Menjadikan siapapun yang membacanya tidak mengerti maksud sebenarnya
Dari kata yang sepenggal itu berada di ujung kalimat.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Gelap Sejenak
Pagi yang seperti biasa disinari oleh cahaya matahari
Menarik tirai malam yang penuh dengan warna gelap yang kuat
Tapi pada pagi kali ini langit tampak tak biasa menunjukkan sikapnya
Hanya sedikit saja tirai gelap itu mampu disibak oleh yang bercahaya
Membuat kilau-kilau warna terang keemasan terlihat luntur ditutup tirai yang gelap
Walau hanya sejenak saja.


Beranda Sanggar Pelanggi, 2016. 


Malangnya
Mengungkap sebuah kisah yang bisa menguras air mata
Dari seorang manusia yang hidup penuh dengan kemalangan
Dalam maksudnya berbuat agar bisa menolong yang lain
Tanggap menghinggap disambut pula dengan ucapan yang menyayat hati
Hatinya yang begitu kuat dengan ragam cacian dan hinaan
Menjadikan ia begitu tabah dan terus berbuat tanpa meminta dianggap ada
Saat sosoknya telah hilang ditelan bersama waktu
Barulah tersadar kalau ia begitu punya arti pada sekitarnya
Sehingga tampaklah ia seperti manusia yang malang.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Mampet
Mampet mengisi setiap lembar kehidupan yang dilalui oleh siapa saja
Yang menggambarkan begitu banyak sendatan yang menghalangi lancarnya urusan
Dalam setiap langkah dan maksud yang dimiliki kata mampet hinggap tak pernah pergi
Seperti dijalan penuh dengan kendaraan yang tak pernah mau bergerak
Begitu juga sungai dan parit-parit pun ikut mampet dihalangi oleh sampah bergelantungan
Hingga sampai hidungpun dapat mampet kalau sakit datang mendera.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Setangkai Mawar
Ada setangkai mawar merah yang terjatuh
Yang empunya telah hilang lupa tentang nya
Kasihan mawar yang setangkai itu sendirian saja
Tersentak hati membawanya pulang
Meletakkannya pada sebuah vas kaca yang berisi air
Agar merah warnanya tidak layu tersengat panas
Dan menghiburkan dari luka lara tertinggal sendiri
Dalam meminta setangkai mawar itu bisa berbagi sukanya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Jalan Rusak
Sakit perut ini terombang ambing di jalan
Yang dipenuhi lubang sepanjang mata memandang
Jalan yang hancur diinjak truk yang membawa beton
Berat yang berton-ton itu melintas setiap hari
Peduli apa truk yang lewat itu pada jalan
Sampai akhirnya sebelan bannya ditelan habis
Oleh jalan yang lama merintih sakit.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Berbalut Debu
Tak usah bicara makan tiga kali sehari
Kalau tidur pun selalu beralaskan kardus bekas selimut elektronik
Yang terbaring menggigil di depan toko-toko
Sembari berharap pada Tuhan agar hujan jangan turun dulu
Melihat jasad ini pun dengan busana yang mewah
Dengan balutan debu yang disulam selama siang berlalu-lalang kendaraan.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Friday, November 10, 2017

Kumpulan Puisi XXV

Kumpulan Puisi XXV

Segalanya Jadi Panas
Basah sudah baju ini karena keringat yang bercucuran
Seperti tak ingin berhenti mengalir dengan hawa yang menguap
Disebabkan panas yang amat luar biasa menyengat
Yang tidak hanya badan saja dibuatnya sampai mencurahkan keringat
Tapi alam pun ikut layu bersama dengan air yang mengering
Diikuti pula oleh pikiran yang tidak lagi mudah untuk berbicara
Hanya dibalut rasa marah dengan ingin bermusuhan pada siapa saja.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Diufuk Barat
Terjaga diri ini saat matahari melipat malam dan menggantinya jadi pagi
Disambut riang oleh riuh suara ayam jantan yang terjaga pertama
Bersama dengan itu lapang pikiran dinuansakan pada senyum yang tak putus
Untuk menyambut pagi dikala fajar itu bernyanyi diufuk timur
Hingga siapapun tak ingin melewatkannya dengan sibuk untuk berkreativitas
Agar tidak ada yang jenuh apalagi sampai merenung kesepian
Sampai nafas lega terhembus kala sang fajar itu menyudahi nyanyi yang merdu
Ketika ia tersenyum pada sesiapa pun yang menikmati harinya
Sebelum ditutup oleh tirai pertunjukan diufuk barat berwarna kuning terang.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Malangnya Anak-Anak Itu
Jalan yang entah kapan sunyinya
Begitu ramai diisi oleh mesin berjalan dan yang berlalu lalang
Disisipi oleh tawa-tawa mungil yang saling berlarian di jalan itu
Mereka itu adalah anak-anak yang menjajakan apa saja kepada siapa saja di jalan
Dengan wajah lusuh yang penuh debu dan baju yang serba longgar
Tanpa peduli lagi pada rasa aman yang sudah hampir lepas dari raganya
Untuk mengutip tiap keping uang receh dari yang kasian melihat mereka
Hanya untuk biar besok masih ada yang bisa disantap sebagai pengganjal perut
Karena sudah tidak ada lagi yang sanggup menghidupi anak-anak itu
Dari dunia yang teramat keras sekali bagi mereka.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Sembako Murah
Rakyat-rakyat yang hidup dalam kemelaratan
Dihimpit dalam gundahnya untuk membeli sembako yang kian mahal
Sembako itu dibutuhkan untuk menyenyakkan bayi dan anak-anak yang tersentak dari laparnya.
Telah banyak yang diperbuat untuk membelinya dengan kerja yang memeras darahnya
Tapi tak jua cukup untuk membeli sembako itu
Karena harganya yang mahal membuat mereka tak sanggup membeli semuanya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Setetes Air
Air yang tumpah ruah di tanah pertiwi ini
Seakan menunjukkan betapa suburnya negeri ini untuk menghidupi kami semua
Saat dipikir tentang air yang melimpah mungkin tak ada yang mati kehausan
Atau juga luntang-lantang mencari air hingga ke bawah batu
Tapi nyatanya itu yang tak mungkin sekarang jadi mungkin terjadi
Tentang mahalnya sudah harga air bagi tanah pertiwi yang melimpah air
Entah siapa yang memonopoli atau tangan kami yang telah mencemari air itu
Dan sekarang setetes air sangat berarti untuk kami melanjutkan hidup.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Tangisan yang Tak Pernah Kering
Diucapkan satu patah kata dengan sendu yang terbata
Dari seorang manusia yang hatinya sedang pilu merana
Bukan karena dikhianati oleh kekasih atau sahabatnya
Tapi ia begitu kecewa pada yang dipilihnya untuk mengayominya
Kecewa karena ia telah lupa dengan janjinya dan membiarkan seorang manusia itu merana
Dan dalam sedihnya seorang manusia terus menangis memohon kepada Tuhan
Untuk membuka lagi hatinya yang ketika dulu begitu tulus
Demi agar ia tak jadi seorang manusia yang ingkar janji.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.

Wednesday, November 8, 2017

Kumpulan Puisi XXIV

Kumpulan Puisi XXIV

Rusaknya Alam
Alam kini tak lagi indah seperti saat dahulu kala
Ketika dihuni oleh hutan yang tak terkira jumlah dan satwa yang menari ria
Akan tetapi alam yang mulai diganggu oleh tangan jahil
Menumbuhkan tetesan api yang menghanguskan alam hingga tak tersisa
Juga dibubuhi oleh tebangan pohon dan pemburuan pada satwa
Menjadikan alam tampak tandus yang bertumbuhkan pasir gersang
Apalah daya alam yang tak bisa melawan apalagi harus menggugat
Sehingga yang berpikirlah dapat mengerti untuk membelanya
Agar kembali indah seperti sedia kala ia tumbuh.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Banjir dan Longsor
Ratusan rumah yang dihuni puluhan ribu orang habis terendam air
Air yang berubah menjadi banjir meluap dari sungai yang kandas oleh sampah.
Mewabah hingga menghancurkan rumah dan yang dilewatinya tanpa permisi
Sampai tanah pun tak lagi bisa menahan kuatnya air yang menerjang itu
Hingga membuat tanah itu hancur dan mengubur yang di bawahnya
Menjadikan nyawa-nyawa yang tidak mengerti pun ikut hanyut entah kemana
Karena disasar air banjir dan tanah yang longsor.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Menyambung Jembatan Rusak
Dalam kumpulan orang-orang yang jauh dari perkotaan
Saling terputus oleh sungai yang tampak seperti jurang tiada ujung
Menyulitkan menyeberang karena jembatan penyampung telah rusak
Rusak digerus zaman yang lupa untuk merawatnya agar abadi
Yang melewati jembatan rusak itu pun tertatih-tatih takut melihat dalamnya sungai
Dan akhirnya jembatan itu disampung dengan swadaya seadanya
Karena tidak ada yang peduli pada jembatan rusak dan usang itu.
Walaupun jembatan itu bisa menyambung pendidikan dan hidup bagi kumpulan orang-orang itu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Meratap Pilu
Dengan penuh kesedihan yang tak terkira sakitnya
Ia hanya mampu untuk meratap pada langit yang diwarnai hitam pekat
Melantunkan doa-doa yang hampir sebenarnya menyerupai sumpah
Meminta agar tak lagi ia dikhianati oleh janji-janji yang menjunjung langit
Dengan harapan yang didambakannya dipenuhi kebahagiaan
Melalui janji yang apa adanya disampaikan oleh hati yang tulus
Tanpa memiliki maksud untuk mengkhianati kepada yang menerima janji
Hingga tak perlu ada lagi yang meratap pilu berurai air mata.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Satwa yang Malang
Selalu diburu sampai rumahnya pun ikut dibakar
Betapa malangnya nasib satwa liar ini sekarang
Tak lagi ada gunanya julukan raja rimba ataupun hutan
Semuanya berlari ketakutan meninggalkan tempat hidupnya
Dari kejaran yang sedang mengokang senapan dan tombak
Untuk menangkapi satwa liar itu apapun jenisnya
Guna diperdagangkan mengeyangkan perut
Dengan nafsu yang membinasakan satwa liar.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Kelaparan
Gemetar kaki dan tangan
Tak lagi kuat menopang tubuh untuk tetap terus berjalan
Menyusuri tempat-tempat yang mungkin terdapat makanan
Untuk mengganjal perut yang hanya diisi angin
Tapi apalah daya tak jua ada yang bisa dikunyah
Walaupun hanya sekedar bau sedap saja
Supaya lapar ini tak sampai menyudahi hidup yang masih panjang
Mesti dijalani lagi.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Monday, November 6, 2017

Kumpulan Puisi XXIII

Kumpulan Puisi XXIII

Pegangan Pada Tali
Jembatan yang umurnya sudah lama sekali
Telah banyak dilalui oleh orang-orang yang butuh menyeberang
Kini jembatan itu telah tampak reot dimakan hujan dan panas yang menyengat
Perlahan-lahan pun kayu yang sebagai alas menjadi rapuh tak terlewati
Satu demi satu mulai berjatuhan telungkup ke dasar sungai yang ganas
Dan tali pegangan jembatan itupun mulai hilang seratnya
Hingga yang menyeberang begitu sangat ketakutan
Sampai tali yang tak kuat lagi itu dipegang erat sekali.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Mawar Berduri
Begitu merah warna pada bunga mawar yang sedang mekar
Hingga sesiapapun yang melihat begitu terpana ingin sekali bisa mencium dan memegangnya
Tapi tak semudah itu ia bisa disentuh oleh sembarang tangan yang menjamahnya
Karena ada duri-duri yang memagari agar mawar tak sampai terluka
Sehingga mawar akan tetap tampak mempesona mesti tak bisa memegangnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Sungai yang Tercemar
Teringat dulu di sungai itu ramai diisi oleh orang-orang
Yang ingin mandi, mencuci, atau hanya sekedar memancing
Melihat kejernihan air sungai yang mengalir dengan tenangnya
Sampai membuat keceriaan terus bersua hingga petang menyingsing
Dan saat sungai-sungai itu dialiri limbah serta sampah
Bau menyengat pun menyeruak dari dalam sungai
Menikam ikan-ikan yang mati dan kabur menjauh
Akhirnya orang-orang pun tak lagi ada yang mau mendatangi sungai.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Pekik Anak Itu
Pekik anak itu yang sudah lama menangis
Berada dalam keramaian orang-orang kesana kemari
Tapi tak ada yang benar-benar mendengar dengkuran suara tangisan itu
Sibuk dengan tujuannya sampai tuli dengan yang disekitarnya
Membuat anak malang itu memekik sejadi-jadinya
Tetap ia hanya sendiri saja di tengah yang kerumunan
Sedang pilu mencari ibu yang terlepas dari genggaman tangannya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Mati Lebih Lama
Ada samar-samar suara membelah angin yang terlampau pagi
Saat matahari pun masih sedang bersiap untuk terbit
Kala bulan juga sudah mau berpamitan untuk merehatkan hatinya
Suara sayup itu menyusup di antara orang-orang mati
Hendak menghidupkan kembali mereka yang dsentil jemarinya
Agar bisa menikmati orang-orang merasakan damainya udara pagi
Yang tidak berdebu.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XXII

Kumpulan Puisi XXII

Pagi yang Mendung
Dengan menatap langit pagi yang didambakan
Tergambar sebelum mata terbuka untuk melihat langit itu
Dalam nyata langit telah menjadi kelabu hitam seperti ingin menangis
Dan membuat hati ikut juga terhanyut dalam buaian langit yang mendung
Ikut menjadi sedih dan masuk kembali ke dalam peraduan.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Ombak
Sengaja ombak itu ditantang oleh yang sudah lupa pada matinya
Untuk dapat mengayuh seluas mungkin laut yang diseberanginya
Agar dapat menemui ikan-ikan yang berpesta di bawah pusaran ombak
Supaya dapat dibawa lari menuju daratan yang tak berombak
Walaupun deru ombak itu menelan ia dan perahu yang ditumpanginya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.  


Di Atas Gedung
Kaki ini sudah menjilat tingginya gedung yang menunjuk langit
Di atas gedung itu mata sudah tak mampu lagi melihat barisa semut yang berjalan
Dan tak mampu juga menembus batas langit yang masih terbentengi oleh awan
Dari atas gedung itu yang tampak adalah kaki yang menginjak ternyata jauh lebih tinggi dibanding gedungnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.  


Sirine Kelabu
Terdengar suara sirine yang dapat menembus batas keramaian
Keramaian yang bermuara di jalanan dan dipenuhi dengan kebisingan
Sirine itu lewat dengan pesan yang semua dapat mengerti
Hingga sesiapapun yang melihat dan mendengarnya membiarkan lewat agar suaranya lekas berlalu
Karena sirine itu berlalu dengan membawa orang-orang yang terkena musibah.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Pecahnya Perahu
Perahu yang tak begitu tampak besar
Hanya tinggal satu mengapung di ujung pelabuhan
Diinjak oleh orang-orang yang ingin meninggalkan daratan
Dengan berlari kencang seperti ketakutan
Riak air mata terus berurai disambut pekik tangisan
Orang-orang itu hanya bisa saling mendorong pada sesamanya
Hingga membuat perahu itu berubah menjadi sesak
Sampai di tengah laut perahu itu pun ikut menjerit kesakitan
Dan akhirnya pecah berantakan menghamburkan orang-orang ditelan laut.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Tersenyum dalam Lelah
Muka yang selalu dibedaki oleh debu jalanan
Bukan sengaja dibuat untuk melihat diri jadi elegan
Tapi berjibaku untuk mengais rejeki sedikit demi sedikit
Bekerja yang tak lagi melihat kapan matahari terbit dan tenggelam
Selalu dilakukan agar yang dicintai bisa hidup nyaman
Dan pulang dengan tersenyum lepas
Walau lelah sudah hampir menikam jantungnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Pada-Nya
Pada-Nya semuanya bersimpuh
Melepas semua titah yang menempel dibahu
Sambil berlutut diikuti mimik wajah yang hendak menangis
Lirih suara terdengar diucapkan dengan terbata-bata
Hanya mempasrahkan diri agar Ia mendengar semua doa-doa
Yang penuh dengan rasa harap pada-Nya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.