Saturday, February 3, 2018

Mengulik Lebih Dalam Burung Jalak Tiongkok

Berbicara tentang burung Jalak mungkin tidak ada dari kita yang belum mengenal ataupun melihatnya secara langsung di depan mata. Ya, hal ini dikarenakan jenis burung Jalak tergolong cukup banyak digemari orang-orang dengan banyaknya yang memelihara dan terkaang diikutkan dalam perlombaan. Alasan yang mendasar banyaknya yang menyukai jenis burung Jalak disebabkan suara kicauannya yang nyaring dan kemampuannya menirukan suara burung lain. Karenanya pada artikel ini coba menjelaskan salah satu dari delapan jenis burung Jalak yang berada di Indonesia. Adapun namanya adalah burung Jalak Tiongkok.

Ya, burung Jalak Tiongkok bukanlah termasuk jenis burung penetap yang berhabitat di Indonesia. Melainkan burung Jalak Tiongkok ini tergolong burung migrasi yang hanya berkunjung ke wilayah hutan kita saat musim dingin melanda negara yang menjadi habitat aslinya. Negara yang menjadi tempat bagi burung Jalak ini berkembang biak berada cukup jauh dari negara kita yakni di Nepal (pegunungan Himalaya) dan Tiongkok. Negara-negara yang menjadi tujuannya bermigrasi pun hanya berada di kawasan Asia Tenggara.
Burung Jalak Tiongkok di alam liar
Penyebaran burung Jalak Tiongkok di wilayah Indonesia hanya terdapat di daerah Pulau Sumatera dan Jawa saja. Area lahan yang menjadi habitatnya pun tersebar merata mulai dari dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian mencapai 1100 meter di atas permukaan laut. Saat mencari makanan biasanya dengan berada di atas tanah sambil mematuki dedaunan kering dan tanah. Jenis makanan yang umumnya disantapnya tergolong bervariasi seperti serangga kecil, cacing, buah-buahan, dan, biji-bijian. Selain itu, musim berkembangbiak yang dijalani burung Jalak Tiongkok biasanya berlangsung di negara asalnya yang terjadi sekitar bulan Mei sampai Juni dengan jumlah telur sekitar enam butir.

Disamping itu, burung Jalak Tiongkok memiliki nama lain yang sudah umum dikenal para penggemar burung Jalak yakni burung Jalak Kapas. Ukuran fisiknya tergolong sedang dengan panjang sekitar 18 cm saja. Corak warna bulunya terdapat perbedaan yang sebenarnya tidak terlalu mencolok antara jantan dan betinanya. Adapun penjelasannya bisa disimak di bawah ini:

Burung Jalak Tiongkok Jantan

  • Berwarna hitam mengkilap yang agak keunguan menutupi area atas tubuhnya mulai dari punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna abu-abu kusam tampak disebagian besar area tubuhnya seperti mahkota kepala, tengkuk, tenggorokan dan dadanya.
  • Warna putih yang terlihat dibagian sisi pangkal sayap, punggung belakang, dan perutnya.
  • Matanya berwarna hitam yang berukuran sedang dengan bentuk bulat.
  • Paruhnya berwarna kehitaman yang berukuran sedang dan agak runcing.
  • Kakinya berwarna abu-abu kehitaman yang berukuran sedang dan tampak agak tebal.

Burung Jalak Tiongkok Betina

  • Berwarna abu-abu kehitaman kusam yang menutupi area punggungnya.
  • Terdapat bintik-bintik berwarna cokelat di area tengkuknya.
  • Berwarna abu-abu biasa yang terdapat di bagian mahkota kepala, tengkuk, tenggorokan, dan dadanya. 
  • Berwarna hitam yang tampak dibagian sayap dan ekornya.
  • Berwarna putih yang menutupi area sayap, perut, tunggir, dan bawah sayapnya.

Nah, ciri suara kicauan burung yang bernama latin Sturnus sturninus ini dikenal tidak semerdu kicauan jenis Jalak lainnya. Kicauan yang dibunyikannya terdengar parau dan serak dengan volume yang cukup tinggi. Tempo kicauannya tergolong sedang dengan nada yang pendek dan diulangi secara terus-menerus.

Jadi, tidak banyak yang bisa dituliskan lagi seputar burung Jalak Tiongkok yang merupakan burung migrasi dengan hidup berkoloni bersama kawanannya. Dan bila Anda tertarik dengan burung Jalak Tiongkok mungkin bisa mencarinya di pasar burung ocehan yang ada di wilayah kota Anda. Okey.

Referensi Tulisan:
https://omkicau.com/2013/08/12/jalak-kapas-sering-bermigrasi-ke-indonesia/
http://www.kutilang.or.id/2012/04/24/jalak-cina/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:The_Daurian_Starling_by_Antony_Grossy.jpg

Kerakbasi Ramai, Si Burung Pengicau yang Kurang Terkenal

Mendengar nama burung Kerakbasi Ramai pastinya banyak dari Anda yang belum pernah melihatnya secara langsung di alam liar. Apalagi bila ditanyakan seputar ciri fisik, habitat, dan ciri kicauannya tentunya hanya sedikit sekali yang mengetahuinya. Ya, hal ini dikarenakan burung Kerakbasi Ramai memang bukan termasuk jenis burung ocehan yang banyak dipelihara maupun sering diikutkan dalam perlombaan. Walaupun demikian suara kicauan yang dimilikinya juga terdengar tak kalah merdu dan bahkan dapat dimanfaatkan untuk memaster burung ocehan lainnya.

Jenis burung Kerakbasi Ramai merupakan salah satu dari tiga jenis burung Kerakbasi yang terdapat di Indonesia. Keberadaan burung yang berwarna kecokelatan ini tidak hanya terdapat di area hutan kita tapi juga tersebar diberbagai belahan negara Asia lainnya. Negara-negara yang habitatnya dihuni oleh burung Kerakbasi Ramai tergolong cukup luas yang meliputi Mesir, Sudan, Somalia, Semenanjung Arab, Kazakhstan, Irak, Iran, India, Tiongkok, Myanmar, Srilanka, dan Filipina. Selain itu, daerah di Indonesia yang menjadi habitatnya juga tergolong tak kalah luas yang mencakup area Pulau Jawa, Kalimantan, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Maluku, Timor, dan Papua.
Burung Kerakbasi Ramai di alam liar
Di alam liar biasanya habitat yang menjadi rumah bagi burung Kerakbasi Ramai berada di dataran rendah dan tidak jauh dari pemukiman masyarakat. Area yang sering ditinggalinya berada di area rawa-rawa yang berbuluh, persawahan, dan hutan mangrove. Saat mencari makanan dilakukan sendirian atau berpasangan dengan bertengger pada batang buluh atau kayu untuk memantau mangsanya dan beristirahat. Jenis makanan yang disantapnya pun tidak terlalu beragam hanya berupa serangga-serangga yang berukuran kecil. Saat memasuki masa kawin atau berkembangbiak biasanya sang indukan akan membangun sarangnya yang berbentuk cawan dengan menggunakan rumput kering dan pelepah buluh. Waktu berkembangbiaknya pun berlangsung sekitar April hingga Agustus dengan telur berjumlah sekitar empat butir.

Ukuran fisik burung yang bernama latin Acrocephalus Stentoreus ini tidak terlalu besar hanya sekitar 18 cm saja. Dan ciri lainnya dari burung Kerakbasi Ramai ini dapat dibaca uraiannya di bawah ini:
  • Berwarna cokelat yang tampak dibagian atas tubuhnya seperti mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  • Warna putih kecokelatan terlihat diarea bawah tubuhnya yang meliputi area tenggorokan, dada, perut, tunggir, dan ekornya. 
  • Matanya berwarna hitam kecokelatan yang berbentuk bulat dan memiliki sorot yang cukup tajam.
  • Paruhnya berwarna hitam yang berukuran sedang dan tampak runcing. 
  • Ekornya yang berwarna cokelat berukuran lumayan panjang yang jarang sekali terlihat dikembangkannya.
  • Kakinya berwarna hitam keabu-abuan berukuran agak panjang dengan cakar yang tajam dan tampak kurus.

Nah, kicauan yang dibunyikan burung Kerakbasi Ramai tergolong merdu dan agak melengking dengan volume yang lumayan tinggi. Pada awal kicauan terdengar agak parau yang lalu diikutkan iringan irama nyaring dan diakhiri suara deringan yang tidak terlalu panjang. Tempo kicauan yang dibunyikannya termasuk cukup rapat tapi tidak sampai seperti suara crecetan. Nada kicauannya terdiri dari beberapa jenis mulai dari “cakkk... cakkk”, “carr... carrr”, “kittt...kiitt” dan “cittt...ciitt”. 

Bagaimana? Menarik bukan penjelasan seputar burung Kerakbasi Ramai yang suara kicauannya terdengar tak kalah merdu dibanding jenis burung ocehan populer lainnya. Dan bagi Anda yang tertarik dengan burung Kerakbasi Ramai mungkin bisa membelinya di pasar burung ocehan yang ada di kota Anda.

Referensi Tulisan:
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_kerakbasi_ramai.htm
https://omkicau.com/2015/02/03/tiga-spesies-burung-kerakbasi-di-indonesia-dan-suaranya-untuk-masteran/3/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Clamorous_Reed_Warbler_Acrocephalus_stentoreus_by_Dr._Raju_Kasambe_DSCN1602_(15).jpg

Thursday, January 25, 2018

Mengulas Lebih Jauh Seputar Burung Jalak Mawar

Berbicara tentang jenis burung Jalak mungkin tidak ada dari para pembaca yang tidak mengenalnya. Hal ini dikarenakan jenis burung Jalak termasuk salah satu dari ragam jenis burung ocehan yang sudah umum dipelihara maupun diikutkan dalam perlombaan. Suara kicauan yang dimiliki jenis burung Jalak tidak hanya terdengar merdu tapi juga cukup rajin atau aktif dalam berkicau. Akan tetapi, jenis burung Jalak yang umumnya dikenali orang-orang diberbagai daerah hanya lah dua jenis yakni Jalak Suren dan Jalak Kerbau. Padahal masih terdapat beberapa jenis lainnya yang mempunyai kicauan tak kalah merdu dan nyaring. Untuk itu pada tulisan coba mengulik salah satu di antaranya agar kita semuanya bisa semakin mengenalnya. Adapun nama nya adalah burung Jalak Mawar.
Burung Jalak Mawar
Membaca nama burung Jalak Mawar mungkin akan sedikit asing bagi sebagian besar para pembaca sekalian. Ya, burung Jalak Mawar merupakan salah satu dari jenis burung Jalak yang terdapat di wilayah hutan Indonesia. Tapi keberadaannya tidak menetap melainkan hanya sebagai burung migrasi yang rutin mengunjungi beberapa daerah di Indonesia setiap tahunnya. Negara-negara yang menjadi habitat asli burung Jalak Mawar cukup beragam yang meliputi Ukraina, Tiongkok, Turki, dan Iram. Sedangkan, negara-negara yang menjadi tujuannya bermigrasi saat musim tiba tersebar diberbagai negara seperti India, Sri Lanka, sekitaran Eropa Barat, dan Indonesia.

Nah, daerah di Indonesia yang menjadi habitat burung Jalak Mawar hanya tersebar di beberapa tempat mulai dari Bandung, Jogja, dan Pulau Bali saja. Area yang menjadi habitat burung jalak ini di Indonesia berada di kawasan terbuka berupa padang rumput dan ladang atau persawahan milik masyarakat. Saat mencari makanan biasanya bergerak secara berkelompok ataupun terkadang berbaur dengan jenis Jalak lainnya. Jenis makanan yang disantapnya pun tidak jauh berbeda dengan burung jalak lainnya yakni berupa serangga yang berukuran kecil. Musim berkembangbiak yang dijalani burung Jalak Mawar tentunya berada di negara asalnya dengan bersarang di area padang rumput yang banyak terdapat serangga untuk sumber makanannya nanti.
Kawanan Burung Jalak Mawar dalam jumlah besar
Ukuran tubuh burung yang bernama latin Pastor Roseus ini tergolong agak besar dengan panjang sekitar 21 cm. Ciri lainnya yang perlu diketahui dari burung Jalak Mawar dapat dibaca penjelasannya di bawah ini:

  1. Berwarna hitam yang menutupi beberapa area tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, tengkuk, leher, tenggorokan, punggung belakang, sayap, dan ekornya.
  2. Berwarna merah jambu yang tampak dibagian paruh, punggung depan, dada, perut, tunggir, dan kakinya.
  3. Terdapat bulu-bulu yang berukuran agak panjang dibagian atas kepalanya yang membentuk jambul. Jambul tersebut dapat dikembangkan saat hendak berkicau atau bersama pasangannya.
  4. Paruhnya yang berwarna merah jambu berukuran sedang dan tampak agak tebal.
  5. Ekornya yang berwarna hitam juga memiliki ukuran agak panjang.
  6. Kakinya yang berwarna merah jambu berukuran sedang dan terlihat agak berotot.

Yup, ciri kicauan yang dimiliki burung Jalak Mawar sebenarnya tidak semerdu atau senyaring burung Jalak lainnya di Indonesia. Suara kicauannya terdengar agak nyaring dengan sedikit parau dibagian tengah dan ujung bunyinya. Tempo kicauannya tergolong cepat dan tampak seperti tidak beraturan. Tapi kekhasan suara yang dipunyai burung Jalak Mawar sering diumpakan mirip suara kaset kusut yang terdengar agak bising. Biasanya saat berkicau dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok. Riuh dan ributnya suara kicauan burung Jalak Mawar terkadang mampu membuat burung ocehan lain yang ada disekitarnya berkeinginan untuk berkicau. Sehingga bagi Anda yang tertarik dengan burung Jalak Mawar maka tak ada salahnya menyimpan audio suaranya untuk dipakai dalam memancing burung ocehan di rumah agar semakin rajin berkicau. Okey.

Referensi Tulisan:
https://omkicau.com/2016/02/23/jalak-mawar-burung-pendatang-yang-bersuara-mirip-kaset-kusut/
http://www.kutilang.or.id/2015/05/29/jalak-mawar/

Rerefensi gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pastor_roseus_by_Davidraju_IMG_3609_(cropped).jpg
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Rosy_Starling_(Pastor_roseus)_(8079445006).jpg

Sikatan Belang: Si Burung Ocehan Mungil yang Bersuara Merdu

Kenalkah dengan burung Sikatan Belang? Mungkin akan banyak yang menjawab tidak mengenal atau belum pernah melihatnya secara langsung. Hal ini terasa wajar sebab burung Sikatan Belang memang bukan bagian dari jenis burung ocehan yang sering dibacarakan atau dipelihara orang-orang. Hanya saja, suara kicauannya terdengar tak kalah merdu dan nyaring dibandingkan jenis burung Sikatan lainnya. Karenanya pada artikel ini coba menguliknya lebih jauh lagi agar semakin banyak yang mengenalinya.

Burung Sikatan Belang memiliki area persebaran tidak hanya terdapat di wilayah Indonesia tapi juga tersebar diberbagai belahan negara lainnya. Negara-negara yang terdapat populasi burung Sikatan Belang tergolong cukup banyak yang meliputi Nepal, India, Tiongkok, Myanmar, Thailand, Vietnam, Laos, Bangladesh, Filipina, dan Malaysia. Begitu juga keberadaannya di wilayah hutan Indonesia tersebar diberbagai daerah mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Kepulauan Sula, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan Alor.

Walaupun daerah di Indonesia yang ditempati burung Sikatan Belang tergolong cukup luas tapi penyebarannya hanya terdapat di area dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 1000 sampai 1200 meter di atas permukaan laut. Untuk itu lah sangat sedikit yang mengenal ataupun pernah melihatnya di alam liar. Selain itu, area hutan yang menjadi tempat tinggalnya beada di hutan pegunungan, hutan cemara, dan lumut yang tidak jauh dari perbukitan dan pegunungan.
Burung Sikatan Belang di Alam Liar
Sewaktu mencari makanan biasanya burung Sikatan Belang bergerak dalam kelompok kecil dan terkadang bergabung dengan jenis burung lain. Jenis makanan yang umumnya disantap burung mungil ini cukup beragam mulai dari lalat kecil, kumbang, ulat, dan laba-laba yang banyak terdapat di hutan. Saat memasukim masa berkembangbiak seringnya burung Sikatan Belang akan membangun sarang yang berbentuk cawan dengan jumlah telur yang dierami indukan sekitar tiga butir.

Adapun ukuran fisik burung yang bernama latin Ficedula Westermanni ini tampak kecil dengan panjang hanya sekitar 11 cm saja. Akan tetapi terdapat perbedaan ciri yang mencolok antara jantan dan betinya. Dan penjelasannya bisa dibaca di bawah ini:

1. Burung Sikatan Belang jantan
  • Berwarna hitam yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, punggung, sayap, dan ekornya. 
  • Berwarna putih yang menutupi area atas dan bawah tubuhnya yang meliputi sisi samping mahkota, sisi sayap, sisi pangkal ekor, tenggorokan, dada, perut, dan tunggirnya.
  • Matanya berwarna hitam yang berukuran sedang dan tampak bulat.
  • Ekornya berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu.
  • Kakinya berwarna hitam yang berukuran agak panjang.

2. Burung Sikatan Belang betina
  • Berwarna kecokelatan yang menutupi bagian atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, sisi wajah, punggung, sayap, dan ekornya.
  • Berwarna abu-abu agak kehitaman yang terlihat dibagian bawah tubuhnya yang meliputi area tenggorokan, dada, perut, dan tunggirnya. 
  • Ekornya yang berwarna kecokelatan terlihat berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu.
  • Matanya berwarna hitam kecokelatan berukuran sedang dan berbentuk besar.
  • Paruhnya berukuran kecil dan berwarna hitam.
  • Kakinya yang berwarna hitam dan berukuran sedang.

Nah, ciri kicauan burung Sikatan Belang terdengar lumayan nyaring dan agak melengking dengan volume yang tidak terlalu tinggi. Kicauannya berupa siulan bernada agak panjang dengan irama naik-turun secara beraturan. Nada kicauan yang dibunyikannya terdengar seperti: “piii...pii..pii” yang diselingi dengan nada getaran agak lemah berupa: “crrr...tiii”. Bunyi kicauan burung Sikatan Belang seringnya terdengar secara terus-menerus dengan durasi hingga mencapai hampir satu menit.

Yup, menarik bukan penjelasan seputar burung Sikatan Belang yang tidak hanya memiliki ukuran tubuh kecil tapi juga bersuara cukup nyaring. Untuk itu bagi Anda yang tertarik dengan burung Sikatan Belang dapat mencarinya di pasar burung ocehan ataupun bisa mengunduh audio suaranya yang ada di internet. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2013/03/20/sikatan-belang/
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_sikatan_belang.htm

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Ficedula_westermanni_Kinabalu_1.jpg 

Mengenal Bekicot Sebagai Pakan Tambahan Bagi Burung Ocehan

Berbicara tentang jenis makanan yang dapat diberikan kepada burung ocehan mungkin jumlahnya sangat banyak sekali. Ragam jenis makanan yang dikonsumsinya berupa jangkrik, belalang, kroto, ulat, pisang, pepaya, biji-bijian, dan sayuran. Kesemua jenis makanan tersebut tidak hanya mengandung banyak nutrisi yang baik bagi kesehatan tapi juga turut membantu dalam menjaga kualitas kicauannya agar tetap merdu dan nyaring. Akan tetapi jenis makanan yang boleh disantap burung ocehan tidak hanya terbatas pada yang disebutkan tadi. Yang salah satunya adalah Bekicot.

Membaca kata Bekicot mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga para pembaca sekalian. Ya, hewan mungil yang memiliki cangkang tersebut berada dihampir semua daerah baik di dataran rendah maupun tinggi. Biasanya orang-orang memandang hewan Bekicot terbagi menjadi dua yakni memasukkannya sebagai hama yang suka memakan aneka jenis tanaman di ladang petani. Pandangan kedua, melihat Bekicot sebagai hewan berlendir yang dapat dimanfaatkan untuk dijadikan pakan hewan ternak. Selain itu, beberapa jenis Bekicot juga terkadang dikonsumsi orang-orang dengan cara dimasak terlebih dahulu.
Bekicot atau Keong atau Siput
Banyaknya orang-orang yang menyantap Bekicot dikarenakan salah satunya tingginya kandungan nutrisi yang terdapat pada dagingnya. Nutrisi-nutrisi yang terdapat pada Bekicot terdiri dari Protein yang mencapai 12gr per 100 gr dagingnya, kalsium sekitar 237 mg dibagian cangkannya, adanya Vitamin B komplek, zat fosfor, lemak ta jenuh, asam amino esensial lengkap, dan asam amino esensial. Begitu pula dengan khasiat atau manfaat daging Bekicot bagi orang-orang yang menyantapnya juga tak kalah beragam mulai dari obat kudis, memperbaiki sel daging yang terluka, mengurangi batuk, sebagai solusi bagi yang insomnia, dan mencegah perapuhan tulang.

Nah, tingginya kandungan nutrisi dan ragamnya manfaat Bekicot bagi manusia ternyata juga boleh dikonsumsi burung ocehan. Hal ini diketahui dari beberapa jenis burung ocehan yang hidup di alam liar terkadang menjadikan Bekicot sebagai pakan wajibnya yang banyak terdapat didekat aliran sungai atau area hutan yang lembab. Begitu pula dengan burung ocehan peliharaan yang juga dapat diberikan pakan Bekicot atau Keong tapi hanya sebagai pakan tambahan saja. Adapun manfaat atau khasiat yang diperoleh burung ocehan yang menyantap Bekicot cukup beragam seperti:

  1. Memperkecil kemungkinan telur menjadi gagal menetas atau meningkatkan fertilitasnya.
  2. Berguna juga dalam menjaga stamina agar tidak mudah lelah atau capai saat latihan berkicau atau sehabis mengikuti perlombaan.
  3. Membantu perkembangan burung bakalan agar tumbuh sehat.
Disamping itu, pemberian Bekicot sebaiknya tidak dilakukan setiap hari atau hanya dijadikan pakan tambahan saja. Cara pemberiannya juga dianjurkan untuk mengolahnya terlebih dahulu dengan mengubahnya menjadi tepung. Mengubah Bekicot menjadi tepung dapat dilakukan dengan daging mentah maupun merebusnya terlebih dahulu dan selanjutnya menjemur dibawah terik matahari ataupun memanggangnya dalam oven. Setelah menjadi tepung halus barulah bisa diberikan kepada burung ocehan dengan cara dicampurkan bersama pakan voer atau biji-bijian yang terdapat dalam cepuk makanannya.

Yup, begitulah sekilas ulasan seputar Bekicot yang mengandung beragam manfaat bagi burung ocehan yang mengkonsumsinya. Untuk itu bagi Anda yang belum pernah memberikan Bekicot kepada burung ocehan peliharaan di rumah kiranya dapat menambahkannya ke dalam daftar menu makanan burung peliharaan Anda. Hanya saja, yang perlu diingat bahwa pemberian Bekicot sebaiknya jangan berlebihan dan tidak dianjurkan dikonsumsi setiap hari. Okey.

Referensi Tulisan:
1. https://omkicau.com/2017/02/25/manfaat-bekicot-sebagai-pakan-alternatif-burung-kicauan-bagaimana-cara-mengolahnya/
2. https://www.khasiat.co.id/daging/bekicot.html
3. http://burungnya.com/5-manfaat-bekicot-untuk-burung-kicau-lengkap-dengan-cara-penyajian/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Achatina_fulica_Thailand.jpg 

Wednesday, January 17, 2018

Mengenal Burung Kehicap Boano yang Terancam Punah

Ketika ditanyakan tentang burung Kehicap Boano mungkin sangat sedikit yang mengenal maupun melihatnya secara langsung di alam liar. Hal ini dirasa wajar sebab burung Kehicap Boano memang sangat diperbincangkan sebagai burung ocehan yang bersuara merdu dan nyaring. Selain itu, keberadaannya di alam liar kian menyusut atau semakin sedikit mengingat keberadaannya hanya terbatas di satu daerah saja. Untuk itu, sengaja pada tulisan kali ini penulis coba mngupas segala informasi terkait burung Kehicap Boano yang hidup di alam liar.

Burung Kehicap Boano merupakan burung endemik yang keberadaannya hanya terdapat di wilayah hutan Indonesia saja. Daerah yang menjadi habitat burung Kehicap Boano terbatas di Pulau Boanol yang terletak di ujung barat daya Seram, Maluku Selatan. Di habitat aslinya keberadaan burung ini biasanya mendiami area hutan dataran rendah sampai perbukitan dengan ketinggian 150 meter di atas permukaan laut.

Sewaktu berada di alam liar, burung Kehicap Boano tersebar di sisa-sisa petak hutan sekunder, dekat kaki bukit, dan area lainnya yang tidak jauh dari perbukitan. Biasanya untuk mencari makanan akan bergerak secara sendirian atapun bergabung dengan burung lain disekitar hutan kanopi yang masih lebat. Jenis makanan yang disantapnya setiap hari di hutan umumnya berupa serangga. Selain itu, awal diketemukannya burung Kehicap Boano di hutan Indonesia terjadi sekitar tahun 1918. Pada tahun tersebut keberadaannya sudah sangat sulit ditemukan muncul di Pulau Boano. Baru sekitar tahun 1991 kembali burung Kehicap Boano terlihat di area pulau yang sama.
Burung Kehicap Boano
Ciri fisik burung yang bernama latin Monarcha Boanensis ini tampak berukuran sedang dengan panjang sekitar 16 cm. Adapun ciri lainnya yang perlu diketahui dari burung endemik ini adalah sebagai berikut:

  1. Berwarna hitam pekat yang menutupi hampir seluruh area atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, pipi, pangkal tenggorokan, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Berwarna putih cerah yang tampak dibagian bawah tubuhnya yang meliputi area sisi dekat leher atas, sisi pipi bawah, bawah tenggorokan, dada, perut, sisi pangkal ekor, dan tunggirnya.
  3. Paruhnya berwarna hitam dengan ukuran yang sedang dan tidak tertalu tebal.
  4. Kakinya berukuran agak panjang yang tampak agak kurus dan berwarna hitam pekat.
  5. Ekornya juga berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang tidak terlalu lebar.
  6. Matanya berwarna hitam yang tampak bulat dengan ukuran sedang.

Mengingat burung Kehicap Boano sebagai burung yang populasinya kian langka berdampak pada sulitnya menemukan rekaman suara kicauannya. Dari beragam sumber yang biasanya menjadi rujukan penulis untuk menulis seputar burung ocehan tidak diketemukan rekaman audio suaranya. Tapi hanya ada sedikit informasi berupa tulisan yang mengatakan bahwa suaranya terdengar cukup jernih dengan bunyi seperti “tjuuu...tjuuu”. Lalu bunyi kicauan jernih tersebut disambut dengan suara deringan lembut sambil menurunkan volumenya hingga terdengar semakin lemah.

Nah, sampai sinilah kiranya penjelasan seputar burung Kehicap Boano yang habitatnya hanya ada di Pulau Boano. Selain itu, populasinya yang kian habis hingga statusnya menjadi Kritis perlu mendapatkan perhatian kita semua. Status Kritis yang disandang burung Kehicap Boano dikarenakan populasinya di alam liar hanya berjumlah sekutar 200-an ekor saja. Untuk itu ada baiknya memang kita jangan memburunya apalagi sampai merusak habitatnya. Dengan harapan lambat laun semoga populasi burung Kehicap Boano dapat bertambah hingga statusnya tak lagi kritis.

Rerefensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/12/15/kehicap-boano/
https://omkicau.com/2014/11/24/kehicap-boano-burung-endemik-pulau-boano-yang-makin-sulit-ditemukan/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Monarcha_boanensis_Foto_Kees_Moeliker.jpg

Lebih Dekat Mengenal Burung Cici Padi

Kenalkah dengan burung Cici Padi? Mungkin sebagian dari para pembaca ada yang sudah mengenal ataupun belum. Hal tersebut terasa wajar sebab burung Cici Padi cukup jarang dibicarakan sebagai jenis burung ocehan sehingga tidak banyak yang mengetahuinya. Selain itu, burung Cici Padi memiliki ukuran tubuh yang cukup kecil dengan corak warna yang lumayan indah. Karenanya, pada tulisan ini coba mengenalnya lebih dekat lagi agar semakin banyak yang mengetahuinya.

Burung Cici Padi memiliki habitat tidak hanya terdapat di wilayah hutan Indonesia tapi juga tersebar diberbagai belahan negara baik itu Asia, Afrika, dan Eropa. Keberadaan burung Cici Padi yang terdapat dibanyak negara tersebar mulai dari Prancis, India, Tiongkok, Jepang, Filipina, Malaysia, Yunani, Turki, Syria, Mesir, Lebanon, Jordania, Irak, Iran, Kenya, Uganda, Tanzania, Afrika Selatan, Afghanistan, Sri Lanka, Korea Selatan, Taiwan, Myanmar Thailand, dan Australia. Luasnya negara yang menjadi tempat tinggal burung mungi ini tentu membuatnya sudah sering dilihat orang-orang di alam liar.

Disamping itu, penyebaran burung Cici Padi juga terdapat diberbagai pulau besar maupun kecil. Daerah-daerah yang menjadi habitatnya tersebar mulai dari Pulau Sumatera, Jawa, Kepulauan Kangean, Sunda Kecil, dan Sulawesi. Keberadaannya di alam liar umumnya mendiami area dataran tinggi yang mencapai 1200 meter di atas permukaan laut. Area lahan yang sering dijumpai kawanan burung mungil ini umumnya area terbuka seperti padang rumput, persawahan, dan perkebunan tebu.

Sewaktu memasuki musim kawin yang berlangsung sekitar bulan November, Februari sampai September biasanya sang indukan akan membangun sarang dengan bentuk mirip botol bulat. Proses perkawinan yang dilakukan indukannya biasanya sang pejantan akan terbang cukup di atas si betina sambil mengelilingi dan mengeluarkan suaranya. Tapi diluar dari musim kawin umumnya burung Cici Padi lebih memilih bersembunyi.
Burung Cici Padi
Ciri fisik burung yang bernama latin Cisticola Juncidis ini tampak berukuran kecil yang panjangnya hanya sekitar 10 cm saja. Ciri lainnya yang perlu diketahui dari burung kecil ini bisa disimak ulasannya di bawah ini:

  1. Berwarna cokelat tua yang menutupi area atas tubuhnya mulai dari mahkota kepala, tengkuk, punggung, sayap, sisi bawah sayap, dan ekornya.
  2. Warna hitam tampak terlihat juga di bagian atas tubuhnya berupa garis-garis agak tebal seperti di atas kepala, punggung, sayap, dan ekornya.
  3. Warna putih kecokelatan tampak di area bawah tubuhnya mulai dari tenggorokan, dada, perut, dan tunggirnya.
  4. Paruhnya bewarna agak kehitaman yang berukuran agak panjang dan tipis.
  5. Ekornya tampak berukuran agak panjang yang terdiri dari beberapa helai bulu yang agak lebar.
  6. Kakinya berwarna merah jambu yang berukuran sedang dengan bentuk yang tampak kurus.
  7. Matanya tampak bulat dengan ukuran tidak terlalu besar dan berwarna hitam pekat.

Sedangkan ciri kicauan burung yang dalam bahasa Inggris dipanggil Zitting Cisticola ini terdengar nyaring dan tidak melengking. Hal ini dikarenakan volume kicauan yang dimilikinya tidak terlalu tinggi. Tempo kicauannya lumayan rapat yang terdengar seperti bunyi crecetan yang diulangi secara terus-menerus. Walaupun kicauannya agak monoton tapi memiliki irama nada yang naik-turun secara beraturan.

Nah, ini lah ragam informasi yang terkait tentang burung Cici Padi yang kicauannya cukup nyaring tapi hanya sedikit yang sudah mengenalnya. Untuk itu dengan ditulisnya artikel ini dapat menjadi tambahan informasi bagi para pembaca yang ingin mengetahui kehidupan burung Cici Padi. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/03/27/cici-padi/
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_cici_padi.htm

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Zitting_Cisticola_-_Cisticola_juncidis.JPG