Friday, September 18, 2015

Pengaruh Buruk Perjudian bagi Perekonomian

Praktik perjudian yang terjadi di masyarakat sudah seperti penyakit akut yang sulit sekali dihilangkan dan diberantas. Disebut sebagai penyakit akut karena hampir disegala lini masyarakat baik yang berada di perkotaan dan pedesaan selalu praktik perjudian dapat dijumpai dengan mudah yang mungkin hanya jenisnya saja yang berbeda. Adapun juga masyarakat yang melakoni perjudian ini tidak hanya berasal dari orang dewasa saja melainkan kalangan anak-anak hingga remaja pun sudah banyak yang bergumal dalam permainan judi. Sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian agar bagaimana praktik perjudian dapat dihilangkan dari kehidupan masyarakat.

Dengan begitu banyaknya orang-orang yang terlibat dalam permainan judi dapat dikarenakan begitu beragamnya jenis dalam perjudian seperti judi togel, lotre, tekpo, dadu, dokding, judi bola, dan judi dengan mengadu binatang peliharaan. Di samping itu juga perjudian ini merebak karena bisa dimasuki oleh berbagai kalangan masyarakat dengan beragam penghasilan baik itu dari kalangan orang kaya ataupun miskin. Karena uang yang dipertaruhkan dalam perjudian tidak selalu berada di nominal ratusan ribu rupiah tetapi bisa dibawahnya dan kalau beruntung menang tak khayal akan mendapatkan uang yang berkali-kali lipat. Tapi jikalau kalah tak sedikit pula yang masih penasaran hingga membuatnya ketagihan untuk terus berjudi agar bisa menang.

Dalam pengertiannya bahwa perjudian itu mengandung makna pertaruhan yang sifatnya untung-untungan dan ada pihak yang kalah dan menang serta dilakukan oleh dua orang atau lebih. Dari pengertian tersebut bahwa kompleksnya praktik perjudian ini yang tidak hanya dilakukan oleh sebuah kelompok yang telah terorganisir yang mampu merekrut puluhan hingga ratusan orang untuk bermain di perjudiannya. Akan tetapi secara tidak sadar dalam kehidupan sehari-hari banyak dari masyarakat yang hanya dua orang saja sudah bermain judi seperti taruhan pertandingan bola, tebak-tebakan memakai uang logam, bermain kartu, dan bermain playstation. Sehingga dapat dikatakan bahwa apapun yang bisa untuk dipertaruhkan dengan memakai uang untuk melihat siapa yang menang dan kalah maka itu telah termasuk judi.

Dikatakan bahwa perjudian ini dapat merusak sendi-sendi perekonomian masyarakat yang dapat menghambat laju pembangunan dan pemerataan kesejahteraan. Hal ini dikarenakan dari begitu banyaknya orang-orang yang terjerumus dalam perjudian yang beragam jenisnya akan menjadikannya lupa terhadap tanggung jawabnya. Bagi yang sudah memiliki keluarga tentu dampak sangat besar sekali yaitu bisa menimbulkan rasa malas untuk bekerja guna menafkahi keluarga dan memilih bermain di tempat perjudian, tidak mau memberikan nafkah baik untuk istri ataupun anak-anaknya karena uang hasil bekerja habis dibuat untuk bermain judi yang belum tentu mendatangkan keuntungan.

Belum lagi menjalarnya perjudian ini bagi kalangan anak-anak dan remaja yang model permainnya jauh lebih modern ketimbang yang dilakukan oleh orang dewasa. Praktik perjudian yang umumnya dilakukan oleh anak-anak dan remaja terlihat lebih memanfaatkan teknologi yang semakin maju sebagai cara untuk memudahkan akses ke arena perjudian. Dan biasanya praktik perjudian dengan memanfaatkan media teknologi lebih sering disebut sebagai judi online. Dimana orang-orang yang ingin ikut berjudi harus mentranfer sejumlah uang kepada bandar yang membuka lapak perjudian online. Sehingga untuk memberangus perjudian online ini memang perlu langkah tegas baik menindak pelaku yang membuka perjudian online dan juga memblokir situs yang digunakannya untuk mengajak orang agar mau berjudi.

Adapun dalam proses memberangus praktik perjudian ini pemerintah melalui aparat hukumnya cukup sering menindak tegas dengan menangkap para pelaku perjudian dalam berbagai bentuk perjudian. Dan para pelaku perjudian ini banyak juga yang berada di pedesaan dengan jenis perjudian yakni togel, sabung ayam, lomba burung merpati, pacuan kuda, dan main kartu. Sedangkan di perkotaan pelaku perjudian sering perannya sebagai bandar dalam perjudian online yang memanfaatkan internet. Sedari itu pemerintah melalu Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Mabes Polri pada bulan Mei lalu telah berhasil memblokir situs berjudian sebanyak 360 situs dan juga mengamankan nomor rekening untuk menampung uang hasil perjudian sebanyak 460 nomor rekening (metrotvnews.com/22/05/2015).

Karena itu juga dengan semakin banyaknya masyarakat yang ikut dalam permainan perjudian entah itu secara tradisional di perkampungan maupun yang jauh lebih modern seperti di perkotaan dampaknya akan sangat luar biasa buruk bagi perekonomian. Dampak buruk ini karena dapat membuat orang-orang malas bekerja dan bisa menjerumuskan pada dunia kriminal untuk bisa mendapatkan uang agar dapat dipakai dalam berjudi. Dan biasanya motivasi orang-orang yang ikut dalam ranah perjudian ada banyak sekali yang salah satunya adalah agar cepat dapat uang dengan cara yang mudah. Tapi akibatnya orang tersebut akan terus kecanduan untuk berjudi hingga sampai seluruh hartanya dapat habis.

Apalagi memang praktik perjudian ini dalam hukum agama secara tegas dilarang untuk dilakukan karena memberikan dampak buruk bagi kehidupannya dan begitu juga dengan hukum negara yang tidak memperbolehkan warganya untuk berjudi. Sedari itu dapat disampaikan bahwa praktik perjudian hanya memberikan dampak buruk karena merusak ekonomi masyarakat dan kehidupan sosial bermasyarakat.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Penulis adalah Pengurus di KSEI Universal Islamic Economic Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)

Menghadirkan Jajanan Sehat bagi Masyarakat

Bertambahnya jumlah masyarakat di Indonesia yang diikuti dengan meningkatnya tingkat konsumsi yang semakin tinggi membuat banyak di antara masyarakat sering makan-makanan ringan di luar rumah. Dan hal tersebut membuat banyak para pelaku usaha turut menjual berbagai jenis makanan yang disukai oleh masyarakat selaku konsumen guna bisa memperoleh keuntungan. Adapun bagi masyarakat terutama bagi anak-anak dan remaja yang masih duduk dibangku sekolahan lebih menyukai makan-makanan ringan atau jajananyang harganya murah dengan variasi bentuk yang beragam. Tapi hal tersebut perlu mendapatkan perhatian karena tidak semua makanan ringan atau jajanan yang dibuat dengan tangan sendiri ataupun pabrik terbilang aman untuk dikonsumsi karena mengandung campuran zat-zat kimia berbahaya.

Hal tersebut bukan lagi sesuatu yang baru didengar bahwa banyaknya jenis jajanan yang di jual diberbagai tempat seperti daerah sekitar lingkungan sekolah, kampus, perkantoran, dan pasar dikatakan aman untuk dimakan. Ketidakamanan tersebut karena banyak di antara berbagai jenis jajanan yang baik itu makanan ataupun minuman sudah terkontaminasi dengan beragam zat-zat berbahaya yang digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat jajanan tersebut. Ini bisa terlihat dari banyaknya jajanan yang dikatakan tidak sehat untuk dikonsumsi tampak dari bentuk dan rasanya yang tak biasa seperti warnanya yang terlalu cerah, kenyal dan keringnya terlalu berlebihan, dan lama kadaluarsanya.

Dan yang dapat membuat berbagai jenis jajanan entah itu makanan ataupun minuman adalah berbagai bahan-bahan kimia yang fungsinya bukanlah untuk makanan ataupun minuman. Ada beberapa zat kimia yang umumnya digunakan dalam bahan baku untuk membuat makanan dan minuman yang dijual sebagai jajanan bagi masyarakat yaitu formalin yang digunakan untuk mengawetkan mayat, boraks yang dipakai untuk membuat deterjen pakaian, dan pewarna rhodamin B yang biasanya digunakan untuk pewarna pakaian dan kertas pada industri pabrik. Dan juga dalam pembuatan jajanan dari bahan-bahan kimia berbahaya tersebut terkadang dalam pemakaiannya tidak memakai takaran yang jelas sehingga akan semakin beresiko bila sampai dikonsumsi oleh masyarakat.

Adapun resiko yang terkandung dari zat-zat kimia tersebut yang biasa dipakai pada jajanan yang dimakan oleh masyarakat adalah dapat membuat kepala pusing, gangguan pada pencernaan, bisa membuat batuk secara mendadak, mual, dan bila dikonsumsi dalam jangka panjang bisa berujung pada mengidap penyakit kanker. Apalagi zat-zat kimia berbahaya untuk dikonsumsi tersebut agaknya tidak begitu sulit didapatkan oleh oknum pelaku curang pedagang karena sudah begitu menjamurnya temuan dilapangan pada jajanan yang mengandung zat kimia berbahaya. Dan motif dalam pemakaian zat kimia berbahaya bagi jajanan adalah untuk mengurangi biaya produksi agar bisa meraup keuntungan jauh lebih banyak. Sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian terutama dari pemerintah untuk mengawasi peredaran zat-zat kimia berbahaya tersebut agar tidak sembarang digunakan pada makanan dan minuman.

Tindakan nakal oleh para oknum pedagang jajanan yang curang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dengan secara rutin memerika jajanan yang dijual baik yang ada di sekitar sekolah, kampus, atau pasar. Dan juga memberikan himbauan kepada para pedagang baik yang kedapatan berlaku curang maupun yang jujur tentang ganjaran hukum bila tetap menjual jajanan yang berbahan kimia berbahaya untuk dikonsumsi. Sehingga secara perlahan-lahan jajanan yang dijual tidak lagi mengandung zat berbahan kimia berbahaya seperti yang disebutkan pada paragraf sebelumnya tapi jajanan sehat bagi masyarakat. Karena bagaimanapun dengan meningkatnya jumlah masyarakat sulit untuk membatasi tingkat konsumsi terutama membeli jajanan yang tampak lezat dengan harga yang terjangkau.

Dan begitu juga bagi masyarakat baik itu para orang tua untuk terus menerus mengawasi anak-anak dan keluarganya dalam mengkonsumsi jajanan yang dibeli di pasar atau di sekitar sekolah. Dan pengawasan tersebut dapat dengan membawakan bekal agar sang anak tidak perlu lagi mengeluarkan uang sakunya untuk membeli jajanan yang tidak diketahui keamanannya buat dikonsumsi. Begitupula dengan pihak sekolah agar lebih sigap dalam menjaring para pedagang yang berjualan di lingkungannya dengan melakukan himbauan dan pemeriksaan terhadap jajanan yang dijual kepada para siswa di sekolah. Sehingga jajanan sehat dapat dengan ditemui di lingkungan sekolah sebagai lingkungan terkecil dari masyarakat dan nantinya akan lebih mudah menjalar kesemua tempat yang menjajakan jajanan tanpa berbahan kimia berbahaya.

Sedari itu dengan mengatahui akan bahayanya jajanan yang mengandung zat kimia berbahaya membuat kita semakin sadar bahwa perlu adanya kewaspadaan pada diri masing-masing untuk tidak mudah membeli jajanan disembarang tempat dengan secara cermat memperhatikan jajanan tersebut. Dan bila perlu lebih baik untuk membawa bekal sendiri yang dimasak oleh keluarga yang secara kesehatan masih jauh lebih terjamin dengan jajanan yang dijual di pasaran. Lalu diperlukan juga peran pemerintah melalui lembaga Badang Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM untuk selalu melakukan pemeriksaaan dan penyuluhan kepada para pedagang agar menjual jajanan yang bebas dari bahan kimia berbahaya sehingga masyarakat yang mengkonsumsinya tidak akan sakit.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Penulis adalah Pengurus di KSEI Universal Islamic Economic Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)

Wednesday, September 2, 2015

Menyoal Mahalnya Harga Daging Sapi

Baru-baru ini masyarakat Indonesia lagi diterpa kesulitan mencari daging sapi  di pasar-pasar tradisional. Kejadian kelangkaan pada daging sapi ini terjadi di beberapa kota besar di jawa seperti Jakarta dan Bandung dan di luar pulau jawa juga yang menyebabkan berbagai kalangan masyarakat yang baisa membeli daging sapi menjadi kesulitan mendapatkannya. Dan juga membuat harganya pun menjadi melambung tinggi hingga mencapai rata-rata dikisaran harga Rp. 120.000 sampai Rp. 140.000 per kilogramnya. Sehingga ini menjadi kajian tersendiri bagi pemerintah untuk bisa menanganinya agar harga daging sapi dapat stabil kembali di pasaran.

Kelangkaan daging sapi yang ada di pasar-pasar tradisional ini termasuk langka terjadi apalagi mengingat masa bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri baru saja usai dirayakan sehingga diperkirakan harganya bisa normal kembali. Akan tetapi dalam kenyataannya harga daging sapi perkilogramnya tetap saja mahal dan bahkan terus meningkat harganya. Adapun penyebab dari kelangkaan daging sapi di pasaran yang menjadikan harganya begitu mahal adalah karena berkurangnya pasokan yang dijual oleh pedagang sapi dari pemasoknya. Sehingga hal tersebut akhirnya menjadikan para pedagang sapi di pasar-pasar tradisional melaksanakan aksi mogok jualan untuk beberapa waktu.

Terjadinya mogok jualan daging sapi oleh para pedagang tidak terjadi di semua daerah di Indonesia tetapi hanya dibeberapa kota besar di pulau Jawa tapi memberikan dampak yang luar biasa bagi konsumen daging sapi. Para konsumen daging sapi yang berasal dari masyarakat biasa dan para pedagang makanan yang bahan bakunya adalah daging sapi ikut dibuat kerepotan kerena sudah begitu sulitnya mendapatkan daging sapi di pasar-pasar tradisional. Dan akibatnya banyak masyarakat terutama bagi para pelaku usaha makanan yang berbahan daging sapi seperti rumah makan dan tukang bakso ikut-ikutan libur jualan dan mengganggu perekonomian mereka.

Daging sapi merupakan bahan makanan yang termasuk istimewa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Karena saat dalam kondisi pasokan daging sapi yang normal di pasaran tetap harganya masih saja mahal yang rata-rata di atas Rp. 70.000 per kilogramnya yang menjadikannya hanya sebagian kecil dari masyarakat yang dapat membelinya.  Apalagi melihat kondisi masyarakat kita yang masih banyak hidup dalam kemiskinan dan berpenghasilan rendah. Sehingga membuat daya beli masyarakat hanya akan menjadi semakin rendah dan bahkan tidak terbeli karena melihat harga daging sapi yang semakin melonjak tinggi di pasaran.

Masalah langkanya daging sapi yang ada di pasaran langsung ditanggapi oleh pemerintah dengan melakukan berbagai langkah untuk bisa menjaga pasokan daging sapi yang di masyarakat tetap aman dan harganya kembali normal lagi. Adapun untuk menangani ini pemerintah melalui Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) melakukan aksi operasi pasar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Serang dengan menjual daging sapi kepada masyarakat dengan harga yang murah sekitar Rp. 89.000 sampai Rp. 90.000 per kilogramnya (kompas.com/09/08/2015). Hal ini dilakukan Perum Bulog agar ketersediaan daging sapi di pasaran dapat teratasi walaupun para pedagang masih melakukan aksi mogok berjualan untuk beberapa waktu.

Di samping itu juga, pemerintah mengambil langkah penting lainnya selain menggerakkan Perum Bulog untuk melakukan operasi pasar murah yakni mengizinkan impor sapi dari negara Australia sebanyak 50.000 ekor sapi (antaranews.com/10/08/2015). Dan juga selain melakukan dua langkah tersebut, pemerintah pun melakukan investigasi kepada para pemilik ternak sapi agar tidak menahan sapi-sapinya untuk di jual kepada para pedagang yang lagi dilanda kelangkaan daging sapi. Langkah-langkah yang menjadi kebijakan dari pemerintah tersebut dapat dianggap cukup ampuh untuk bisa menormalkan kembali pasokan daging sapi ke masyarakat sehingga harganya dapat normal kembali.

Apalagi mengingat dari kelangkaan daging sapi yang ada di pasaran dan menjadikan harganya melonjak tinggi hingga mendekati Rp. 150 ribu per kilogramnya dapat mendatangkan ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Ketakutan tersebut ialah dengan terjadinya aksi dari segelintir orang yang tidak bertanggungnya melalui pemalsuan daging sapi yang dijual dengan dicampur daging celeng agar harganya murah. Penjualan daging celeng dengan dicampur bersama daging sapi tidak bisa nafikan cukup sering terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Dan hal ini tentunya membuat masyarakat akan menjadi resah bila sampai hal itu terjadi di tengah harga daging sapi lagi tinggi-tingginya dikarenakan minimnya pasokan sapi yang dijual oleh pedagang di pasar tradisional.

Oleh karena itu, melihat juga keinginan pemerintah yang sekarang ini untuk mewujudkan Indonesia dapat melakukan swasembada pangan salah satunya dibidang peternakan sapi mengharapkan persoalan tingginya harga daging sapi dapat segera teratasi dengan baik. Dan  mengingat pula bahwa sebagian dari masyarakat Indonesia yang tidak semuanya dapat membeli daging sapi yang kaya akan protein tersebut. Sehingga hal ini tentu menjadi tanggung jawab bersama baik dari pemerintah, pelaku usaha ternak sapi, dan pedagang dapat berkerja sama dengan baik agar dapat menciptakan harga daging sapi menjadi murah dan bisa dibeli oleh semua kalangan masyarakat Indonesia. Semoga.

Oleh: Satria Dwi Saputro
(Penulis adalah Pengurus di Kelompok Studi Ekonomi Islam Universal Islamic Economic Universitas Islam Negeri Sumatera Utara).