Saturday, December 16, 2017

Mengenal Indahnya Burung Poksai Genting

Jenis burung Poksai Genting termasuk salah satu jenis burung ocehan yang sudah lama dikenal para penghobies di tanah air. Orang-orang yang mengenalnya bukan hanya dikarenakan suara kicauannya yang nyaring tapi juga corak warna bulunya yang tergolong indah dengan warna yang bervariasi. Selain itu, ukuran tubuhnya juga cukup proporsional yang tidak besar dan tidak pula terlalu kecil. Sehingga burung Poksai Genting cukup digemari para penghobies yang sering dijadikan sebagai burung masteran untuk burung ocehan lainnya. Untuk itu agar para pembaca sekalian dapat mengenal burung Poksai Genting lebih jauh lagi maka penulis pun coba menggali segala informasinya dengan dituliskan dalam artikel ini.

Ya, burung Poksai Genting adalah jenis burung ocehan yang daerah persebarannya hanya terdapat dibeberapa negara di kawasan Asia Tenggara saja. Negara-negara yang hutannya di huni burung Poksai ini tidak lah banyak seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Di negara kita populasinya mendiami area hutan di Pulau Kalimantan dan Sumatera saja. Selain itu, di alam liar biasanya penyebarannya terfokus di area dataran tinggi dengan rentang ketinggian antara 700 sampai 2000 meter di atas permukaan laut. Jenis hutan yang dijadikannya tempat tinggal umumnya ialah hutan pegunungan, area pinggir hutan, hutan sekunder, dan perkebunan milik masyarakat.

Kehidupan burung Poksai Genting di alam liar biasanya bersama kawanannya yang lain dengan jumlah sekitar lima ekor dalam satu kelompok. Sewaktu mencari makanan seringnya mengunjungi pepohonan yang pendek sambil mengeluarkan kicauannya. Jenis makanan yang setiap hari dicarinya tergolong beragam mulai dari serangga kecil, siput atau keong, buah-buahan, dan biji-bijian yang banyak terdapat di hutan. Selain itu, sarang yang dibentuk indukannya biasanya berbentuk mangkuk yang tidak terlalu dalam. Waktu berkembangbiak bagi burung Poksai Genting seringnya berlangsung cukup singkat yang terjadi di bulan Februari dan Maret saja dengan jumlah telur yang dierami indukan sekitar dua butir.
Gambar: Burung Poksai Genting
Adapun ciri fisik burung yang bernama latin Garrulax Mitratus ini tampak berukuran sedang dengan panjang sekitar 23 cm. Selain itu, untuk mengetahui ciri lainnya dari burung Poksai Genting maka bisa membaca uraiannya di bawah ini:

  1. Pada bagian depan wajah dan mahkota kepalanya tampak berwarna cokelat berangan tua.
  2. Tampak juga warna abu-abu kehitaman yang hampir menutupi sebagian besar badannya mulai dari tengkuk, pungung, sayap, tenggorokan, dada, perut, dan ekornya. 
  3. Disekitaran area sayapnya tersapu warna putih cerah dengan bentuk garis-garis secara horizontal.
  4. Dibagian area belakang perut dan tunggirnya tampak berwarna cokelat berangan tua.
  5. Iris matanya berwarna putih cerah dan bagian pupilnya berwarna hitam pekat. 
  6. Paruhnya berwarna kuning tua dengan bentuk agak panjang dan tebal.
  7. Kakinya berukuran agak panjang yang cukup tebal dengan warna mirip seperti paruhnya.

Sedangkan suara kicauan burung Poksai Genting ini terdengar nyaring dengan volume yang tidak terlalu tinggi. Suara kicauannya bertempo sedang dengan nada yang pendek-pendek. Sekilas bunyi kicauannya terdengar seperti suara siulan yang berirama naik turun secara beraturan. Lalu bunyi kicauannya berirama seperti: “ker-kewiit” yang dilakukan secara terus-menerus.

Begitulah ulasan terkait dengan burung Poksai Genting yang juga dipanggil dengan nama burung Poksai Mandarin di antara para penghobies nya. Untuk itu dengan dituliskan artikel ini semoga dapat menambah wawasan kita terkait ragam jenis burung ocehan yang ternyata sangat banyak jumlahnya. Dan bagi Anda yang tertarik dengan burung Poksai Genting dapat mencarinya di pasar burung ocehan yang ada disekitar kota Anda. Thanks.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2014/05/05/poksai-genting/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Garrulax_mitratus.jpg

Monday, December 11, 2017

Mengenal Kemerduan Kicauan Burung Tepus Gelagah

Jenis burung Tepus Gelagah termasuk salah satu jenis burung kicauan yang memiliki suara merdu dan nyaring. Kemerduan suara jenis burung Tepus Gelagah tidak hanya terdengar nyaring tapi juga bervariasi dengan adanya suara yang khas yang tidak dimiliki jenis burung ocehan lainnya. Selain itu, sudah ada pula yang mencoba memeliharanya dengan tujuan untuk menggunakan suaranya sebagai media pemasteran bagi burung ocehan yang hendak diikutkan perlombaan. Karenanya, penulis pun berkeinginan untuk menggali beragam informasi terkait burung Tepus Gelagah dengan tujuan agar semakin dikenal oleh para penghobies sekalian. Adapun pembahasan lebih lanjutnya dapat dibaca di bawah ini.

Ya, burung Tepus Gelagah memiliki daerah persebaran tidak hanya terbatas di wilayah Indonesia tapi juga terdapat diberbagai negara di hampir seluruh kawasan Asia. Negara-negara yang terdapat populasinya tergolong cukup banyak yang di antaranya adalah India, Nepal, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Tiongkok, dan Laos. Hanya saja, keberadaannya di Indonesia tidak terdapat diberbagai derah tapi hanya terbatas di wilayah Pulau Jawa saja tepatnya di bagian baratnya.

Sewaktu hidup di alam liar biasanya area persebaran terdapat di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian mencapai 1500 meter di atas permukaan laut. Area tempatnya tinggal seringnya bertanaman lebat, reruputan lebat, dan semak belukar. Selain itu karakter atau sifat burung Tepus Gelagah dikenal cukup pemalu dan lebih menyukai bersembunyi dibalik rimbunnya hutan. Saat mencarinya di hutan tidak mudah untuk melihat sosoknya sebab burung ini sangat suka mengeluarkan kicauannya dengan tetap bersembunyi dari balik dedaunan pohon.
Ilustrasi Burung Tepus Gelagah
Sedangkan sewaktu mencari makanan di hutan kadang kala dilakukan dengan bergerak dalam kelompok kecil atau berpasangan sekitar dua sampai empat ekor saja. Jenis makanan yang setiap hari disantapnya berupa aneka jenis serangga seperti ulat kupu-kupu, kumbang, jangkrik, dan jenis serangga lainnya. Waktu berkembangbiaknya biasanya berlangsung cukup lama mulai dari Februari sampai September dengan jumlah telur mampu mencapai lima butir dalam sekali mengerami.

Nah, ciri fisik burung yang bernama latin Timalia pileata ini memiliki ukuran tubuh sedang dengan panjang mencapai 17 cm. Lalu ciri lainnya yang perlu diketahui dari burung ini dapat disimak uraiannya di bawah ini:

  1. Pada bagian mahkota kepalanya terlihat berwarna cokelat kemerahan.
  2. Tampak pula warna putih cerah yang menutupi area dekat bawah mahkota kepala, sisi pipi bawah, tenggorokan, dan pangkal dadanya.
  3. Terlihat juga warna hitam pekat dibagian depan mata dan paruhnya.
  4. Pada bagian dekat leher atasnya terlihat berwarna abu-abu kehitaman yang agak tebal.
  5. Tampak juga warna cokelat agak kusam menutupi area atas dan bawah tubuhnya mulai dari keseluruhan punggung, sayap, perut, tunggir, dan ekornya.
  6. Ekornya berukuran sedang yang terdiri dari beberapa helai bulu agak lebar tapi tidak bisa dikembangkan saat berkicau atau hendak terbang.
  7. Kakinya berukuran sedang dan tampak sedikit besar dengan cakar yang berukuran agak panjang.

Yang tak kalah menarik dari burung Tepus Gelagah ini adalah suara kicauannya yang memiliki ciri khas yang berbeda dengan jenis burung ocehan lainnya. Suara kicauannya terdengar nyaring dengan volume yang agak tinggi dan tidak sampai melengking di telinga kita. Terdapat tempo yang cukup rapat dengan suara getaran yang lembut dihampir sepanjang kicauannya. Suara yang dibunyikannya seringkali terdengar lumayan tajam dengan nada yang naik-turun secara beraturan. Selain itu, bila didengarkan secara perlahan tampak suara kicauannya seperti ganda yang membuatnya terdengar lumayan nyaring.

Tidak banyak lagi yang dapat dituliskan dalam artikel ini terkait burung Tepus Gelagah. Tentunya, bagi Anda yang telah membaca artikel ini hingga tuntas mungkin sedikit tertarik dengan burung Tepus Gelagah. Bila ia, mungkin dapat mencarinya di pasar burung ocehan ataupun bisa menyimpan audio suaranya yang banyak terdapat di internet. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2014/05/08/tepus-gelagah/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Timalia_pileata_Horsfield.jpg

Sunday, December 10, 2017

Meninting Kecil, Si Burung Ocehan Endemik yang Bersuara Nyaring

Berbicara tentang burung Meninting Kecil mungkin hanya sedikit dari kita yang mengenal ataupun pernah melihatnya secara langsung di alam liar. Hal ini pun terasa wajar sebab ras burung dari keluarga Turdidae ini memang sangat jarang sekali diperbincangkan dikalangan para penghobies di Indonesia. Padahal suara kicauan burung Meninting Kecil tergolong lumayan nyaring dan merud. Selain itu, sekilas corak warna bulunya tampak ada kemiripan dengan burung Kacer. Dan ditambah habitatnya hanya tersebar di wilayah hutan Indonesia saja. Karenanya penulis tertarik untuk menguliknya lebih dalam lagi agar kita semakin mengenalnya secara menyeluruh.

Ya, burung Meninting Kecil memiliki ukuran tubuh yang sebenarnya termasuk sedang dengan panjang sekitar 16 cm. Hanya saja dibanding kerabat dekatnya yang bernama burung Meninting Besar tampak ukuran tubuh keduanya memang berbeda agak jauh. Selain itu, area persebarannya hanya terbatas di wilayah hutan Indonesia dengan habitat di Pulau Sumatera dan Jawa saja. Di habitat aslinya biasanya burung Meninting Kecil mendiami area perbukitan atau pegunungan dengan rentang ketinggian antara 600 sampai 1800 meter di atas permukaan laut.

Disamping itu, kehidupannya di alam liar seringnya tak pernah jauh dari aliran sungai yang banyak bebatuannya. Hampir seluruh aktivitasnya seharian akan dihabiskan dengan berada dekat aliran sungai baik untuk melompat, mandi, dan mencari makanannya. Jenis makanan yang setiap hari disantapnya disekitar aliran sungai berupa serangga kecil, siput, dan larva. Selain itu, cara burung Meninting Kecil dalam menangkap mangsanya dengan mencarinya disekitar aliran sungai dan setelah menemukannya langsung dipatuk menggunakan paruhnya yang agak tebal tersebut. Sarang yang dibangunnya pun diletakkan tak jauh dari aliran sungai yang dibuat menggunakan lumut atau serat. Waktu berkembangbiaknya biasanya terjadi di bulan Januari, April hingga Juni dengan jumlah telur yang dierami indukannya hanya sekitar dua butir saja.
Gambar: Burung Meninting Kecil
Nah, ciri fisik burung yang bernama latin Enicurus Velatus ini seperti yang disinggung para paragraf kedua memiliki ukuran sedang dengan panjang sekitar 16 cm saja. Adapun untuk ciri yang lainnya dapat disimak penjelasannya di bawah ini:

  1. Tubuhnya tampak diselimuti dengan tiga warna yakni hitam pekat, putih, dan cokelat tua.
  2. Warna hitam pekat terlihat menutupi sebagian besar tubuhnya mulai dari pipi, tenggorokan, sayap, punggung atas sampai tengah, dan ekornya.
  3. Warna putih terlihat dibagian dekat mata, wajah depan mata yang dekat paruh, dada, perut, tunggir, punggung bagian bawah, dan sisi ujung ekornya.
  4. Warna cokelat tua hanya terlihat menutupi mahkota kepala sampai pangkal tengkuknya.
  5. Paruhnya yang berwarna hitam berukuran sedang dan agak tebal.
  6. Ekornya bercabang dua dibagian arah ujungnya yang mirip garpu.
  7. Kakinya yang berwarna putih krim berukuran agak panjang dan tidak terlalu besar dengan kuku yang agak tajam.

Sedangkan bunyi kicauan burung Meninting Kecil terdengar nyaring dan agak melengking dengan volume yang tidak terlalu tinggi. Irama kicauannya bertempo cukup lambat dengan nada berupa siulan pelan. Tapi siulan burung yang corak warnanya mirip Kacer ini tidak terlalu bervariasi dengan suara yang selalu dibunyikannya berupa “hiii...tiii..tii”. Durasi kicauannya pun tidak terlalu lama hanya sektiar kuran dari tiga pulu detik.

Okey, demikian pembahasan khusus tentang burung Meninting Kecil yang merupakan burung endemik dengan corak warna yang sedikit menyerupai burung Kacer. Untuk itu dari membaca artikel ini mungkin bisa menambah wawasan kita terkait ragam jenis burung ocehan yang sangat jarang sekali diperbincangkan atau diperlombakan. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/06/26/meninting-kecil/
http://bio.undip.ac.id/sbw/spesies/sp_meninting_kecil.htm

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sunda_Forktail_(Enicurus_velatus)_-_Flickr_-_Lip_Kee.jpg

Friday, December 8, 2017

Cikrak Daun, Si Burung Ocehan Bertubuh Mungil yang Bersuara Merdu

Jenis burung ocehan yang bertubuh mungil atau kecil tergolong cukup banyak keberadaannya di wilayah hutan Indonesia. Biasanya karakter burung kicauan yang ukuran fisiknya kecil terkenal cukup aktif dan lincah  dalam bergerak. Selain itu, suara kicauannya tergolong nyaring dengan nada yang agak melengking dan bertempo cukup cepat. Hanya saja, jenis burung ocehan yang ukuran tubuhnya kecil biasanya sangat jarang dipelihara dan diikutkan dalam perlombaan. Karenanya pada tulisan ini akan diulas terkait salah satu dari jenis burung kicauan yang bertubuh kecil agar semakin dikena oleh para pembaca sekalian. Adapun nama burung mungil tersebut adalah burung Cikrak Daun.

Burung ocehan Cikrak Daun termasuk jenis burung kicauan yang bertubuh mungil dengan panjang tubuh hanya sekitar 11 cm saja. Daerah persebaran burung Cikrak ini terdapat dibanyak tempat mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumbawa. Selain terdapat di wilayah hutan Indonesia keberadaannya juga ada di beberapa negara lainnya seperti Filipina dan Malaysia. Tempat yang menjadi habitatnya tinggal tidak terdapat di dataran rendah tapi hanya ada di dataran tinggi dengan ketinggian berkisar di antara 800 sampai 3000 meter di atas permukaan laut.

Begitu pula dengan kehidupan burung Cikrak Daun di alam bebas mendiami area hutan yang agak lebat di pegunungan. Jenis hutan yang menjadi tempat tinggalnya adalah hutan perbukitan, hutan primer, dan tepian hutan. Sewaktu mencari makanan di hutan pegunungan biasanya burung Cikrak Daun bergerak dengan mengunjungi puncak pohon yang tinggi. Selain itu, jenis makanan yang dicarinya di hutan berupa aneka jenis serangga seperti ulat kupu-kupu, kumbang kecil, semut, dan lebah. Sedangkan musim berkembangbiak bagi burung mungil ini berlangsung hampir sepanjang tahun mulai dari bulan Januari sampai Oktober. Sarang yang dibangun untuk bersarang terbuat dari lumut, pakis, dedaunan kering dekat tanah, dan pohon pakis.
Gambar: Burung Cikrak Daun
Adapun ciri fisik burung yang bernama latin Phylloscopus trivirgatus ini dikatakan pada paragraf ke dua memiliki ukuran tubuh mungil. Selain itu, ciri fisik lainnya yang perlu diketahui dari burung Cikrak Daun dapat dibaca uraiannya di bawah ini:

  1. Terdapat warna hijau cerah dibagian atas tubuhnya mulai dari atas kepala, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya.
  2. Tampak juga warna kuning sedikit kehijauan dibagian bawah tubuhnya seperti tenggorokan, dada, perut, sampai ke tunggirnya.
  3. Pada bagian dekat mata dan mahkota kepala terlihat berwarna kehitaman yang membentuk garis agak lebar dan panjang.
  4. Paruhnya berukuran sedang dan agak meruncing dibagian ujungnya yang keseluruhannya berwarna hitam pekat.
  5. Kakinya yang berukuran agak panjang terlihat berwarna hitam pekat dengan kuku yang tajam.
  6. Sifat atau karakternya dikenal cukup aktif dan lincah yang membuatnya agak sulit dijinakkan oleh orang-orang yang merawatnya.

Nah, suara kicauan burung Cikrak Daun memiliki volume yang lumayan tinggi dengan suara nyaring dan melengking. Kicauannya bertempo cukup rapat yang terdengar hampir seperti suara crecetan. Selain itu, durasi kicauannya termasuk cukup lama yang dapat mencapai hampir satu menit. Bunyi nada kicauannya terdengar seperti “tsiii...cii..cii...wiit” yang dibunyikan secara berulang-ulang dan terkadang dibaur dengan nada lainnya.

Akan tetapi jenis burung Cikrak Daun yang kadang dipanggil dengan nama Pare-pare ini tergolong burung yang sangat sulit dalam pemeliharaannya. Kesulitan yang dialami dalam perawatan burung Cikrak Daun mesti selalu menyediakan pakan berupa serangga dan tak boleh sampai kosong. Selain itu, bila burung terlalu lama dijemur di bawah terik matahari maka dapat menyebabkannya stres dan akhirnya mati. Untuk itu sangat sedikit yang berhasil dalam merawat burung Cikrak Daun menjadi burung yang sehat dan rajin berkicau.

Referensi Tulisan:
https://omkicau.com/2013/03/07/perawatan-cikrak-daun-si-kecil-bersuara-mirip-moza/
http://www.kutilang.or.id/2012/02/08/cikrak-daun/

Referensi Gambar:
http://orientalbirdimages.org/search.php?Bird_ID=1815&Bird_Image_ID=64482

Wednesday, December 6, 2017

Cabai Gunung, Si Burung Mungil Yang Bersuara Merdu

Jenis burung Cabai termasuk salah satu jenis burung ocehan yang memiliki suara merdu dan bervariasi. Banyak di antara para penghobies yang memanfaatkan suara kicauan jenis burung Cabai untuk memaster burung ocehan nya agar kicauannya semakin bervariasi dan terdengar nyaring. Selain itu, keberadaan jenis burung Cabai di hutan Indonesia tergolong beragam dan beberapa di antaranya termasuk burung endemik yang penyebarannya hanya ada di wilayah hutan kita. Untuk itu pada tulisan ini coba mengulik salah satu dari jenis burung Cabai yang umumnya sudah dikenal para penghobies. Adapun nama burung Cabai tersebut adalah burung Cabai Gunung.

Spesies burung Cabai Gunung merupakan jenis burung kicauan yang ukuran tubuhnya sangatlah kecil dengan panjang hanya sekitar 8 cm saja. Corak warna tubuhnya terdapat perbedaan yang mencolok antara jantan dan betinanya. Pada burung Cabai Gunung jantan berwarna biru kehitaman yang tampak dibagian seluruh atas tubuhnya mulai dari kepala, pipi, tengkuk, punggung, dan sayapnya. Warna kuning tua terlihat dibagian tenggorokan, perut, dan area tunggirnya. Warna merah tua terdapat dibagian dadanya yang menjadi ciri khas burung Cabai Gunung. Lalu disekitar bawah sayap sampai area ekornya berwarna abu-abu kehitaman.
Gambar: Burung Cabai Gunung di alam bebas
Sedangkan untuk burung Cabai Gunung betina lebih berwarna agak kusam dengan cokelat keabu-abuan. Warna tersebut terlihat dibagian hampir seluruh tubuhnya mulai dari atas kepala, pungung, tenggorokan, dan perutnya. Pada bagian seluruh sayap dan ekornya terlihat berwarna hitam kusam. Selain itu, antara jantan dan betinanya memiliki ukuran mata yang sama dengan bentuk bulat dan berwarna hitam. Paruhnya yang berukuran sedang tampak tidak terlalu tebal dan berwarna hitam pekat.

Adapun penyebaran burung yang bernama latin Dicaeum Sanguinolentum hanya terdapat di wilayah Indonesia dan Timor Leste saja. Keberadaannya di hutan Indonesia mendiami beberapa pulau besar dan kecil mulai dari Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Pulau Sumba, Flores, dan Pulau Timor. Selain itu, area yang menjadi tempat tinggalnya hanya berada di sekitaran dataran tinggi dengan ketinggian mencapai 2400 meter di atas permukaan laut. Jenis hutan yang ditinggalinya di area pegunungan pun biasanya mendiami semak belukar, hutan, pinggiran hutan, dan perbukitan. Jenis makanan yang sering disantapnya di alam liar tidak hanya berupa nektar yang disedot dari sari bunga yang sedang mekar tapi juga memakan buah-buahan dan serangga berukuran kecil termasuk larva.

Disamping itu, suara kicauan burung Cabai Gunung terdengar nyaring dan agak melengking dengan volume yang tinggi. Tempo kicauannya termasuk cukup rapat dengan nada yang agak tinggi dan terdengar lumayan tajam. Selain itu, bunyi nada kicauannya tergolong bervariasi dengan nada seperti “ciittt... ciittt... cittt” dan “cukk... cukkk.... twitt” serta “tikkk... tiikkk.. tiikk”. Suara burung Cabai Gunung yang melengking tersebut seringnya dimanfaatkan untuk memancing burung lain agar rajin berkicau. Dan juga, terkadang dijadikan sebagai suara masteran untuk burung ocehan yang sedang belajar atau ingin mempertajam suara kicauannya. Karenanya, bagi Anda yang tertarik dengan buruung Cabai Gunung mungkin akan kesulitan memperolehnya mengingat lokasi habitatnya hanya berada di area pegunungan. Akan tetapi Anda dapat menyimpan audio suaranya yang banyak terdapat di internet. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2012/04/22/cabai-gunung/
http://omkicau.com/2014/11/24/cabai-gunung-burung-kecil-dengan-suara-kicauan-tajam

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Blood-breasted_Flowerpecker-_male_(Dicaeum_sanguinolentum).jpg

Monday, December 4, 2017

Mengenal Lebih Dekat Burung Kapasan Kemiri

Jenis burung Kapasan Kemiri termasuk salah satu jenis burung kicauan yang penyebarannya hanya terbatas dibeberapa negara dikawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hanya saja, tidak banyak dari para penghobies yang mengenal ataupun pernah memeliharanya. Padahal suara kicauannya terdengar cukup merdu dan nyaring ditambah dengan ciri fisiknya tak kalah menarik dibanding jenis burung ocehan populer lainnya. Untuk itu pada tulisan ini coba menguliknya lebih dalam lagi agar semakin banyak yang mengenal burung Kapasan Kemiri dan bahkan dapat menggunakan suara kicauannya untuk memaster burung kicauannya.

Burung Kapasan Kemiri memiliki ukuran fisik yang tergolong sedang dengan panjang hanya sekitar 16 cm saja. Bulu-bulu di tubuhnya hanya dibalut dengan warna hitam dan putih saja. Tapi kedua warna tersebut membentuk corak yang cukup indah dibagian sayap dan punggungnya. Corak tersebut berupa garis oval yang agak panjang dengan susunan secara horizonal yang bentuknya sekilas mirip corak batik. Selain itu, warna hitam yang menutupi tubuhnya tampak dibagian atas mulai dari kepala, alis mata, tengkuk, punggung, sayap, dan ekornya. Lalu warna putih terlihat dibagian atas mata berupa garis tebal, pipi, tenggorokan, dada, perut, dan tunggirnya.

Ciri lainnya yang perlu dicermati dari burung Kapasan Kemiri ini adalah paruhnya yang berwarna hitam berukuran sedang dan agak tebal, Ekornya yang berwarna hitam bercampur bercak putih ini berukuran sedang dan terlihat sedikit lebar. Kakinya yang berwarna hitam berukuran agak panjang dan sedikit besar. Matanya berwarna hitam memiliki ukuran sedang dengan bentuk bulat. Selain itu pada bagian bawah tubuhnya tepatnya disekitar area dadanya yang berwarna dasar putih dibalut dengan garis-garis hitam yang terbentuk secara vertikal.
Gambar I: Burung Kapasan Kemiri di Alam Liar
Pada paragraf awal telah disinggung bahwa burung Kapasan Kemiri tersebar hanya dibeberapa negara di sekitar kawasan Asia Tenggara saja. Negara-negara yang menjadi tempat tinggalnya adalah Malaysia, Thailand, Filipina, dan Singapura. Selain itu, keberadaannya di Indonesia tersebar cukup merata diberbagai daerah mulai dari Sumatera, Bangka, Belitung, Pulau Nias, Jawa, dan Kalimantan. Di habitat aslinya area yang menjadi tempat tinggalnya berada disekitar dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian mencapai 1000 meter di atas permukaan laut. Jenis hutan yang umumnya terdapat kawanan burung Kapasan Kemiri berada di kawasan hutan mangrove, perkebunan, hutan cemara kecil, dan area terbuka yang tidak jauh dari pemukiman masyarakat.

Sedangkan kehidupan burung yang bernama latin Lalage Nigra ini di alam liar saat mencari makanan biasanya memantau dari ranting pohon dengan melompat ke ranting yang lainnya. Akan tetapi terkadang burung ini pun juga mencari makanannya dengan turun ke tanah sambil membuang dedaunan kering memakai kaki dan paruhnya. Jenis makanan yang sering disantapnya berasal dari serangga kecil seperti laba-laba, larva kumbang, jangkrik, dan ulat serangga. Karakter atau sifat burung Kapasan Kemiri dikenal cukup pemalu dengan menyukai bersembunyi dibalik dedaunan pohon. Masa berkembang bagi burung Kapasan ini berlangsung cukup lama mulai dari Maret sampai Agustus dengan jumlah telur yang dierami indukannya sekitar dua ekor.

Adapun suara kicauannya terdengar cukup merdu dengan volume yang agak tinggi tapi tidak sampai melengking. Suaranya bertempo cukup rapat dengan melakukan pengulangan nada sambil menaikkan volumenya. Tapi saat menurunkan volume suaranya biasanya nada kicauan tersebut akan berganti dengan nada yang lain. Ciri nada kicauannya yang bernama tinggi terdengar seperti “cukk... cukkk... cukk” dan nada yang bernada rendah “tree... tree.. treee”. Walaupun nada kicauannya tidak terlalu bervariasi tapi cukup merdu dan layak dipakai untuk memaster ataupun memancing burung ocehan lain agar mau berkicau.

Mungkin tak banyak yang bisa dituliskan lagi terkait dengan burung Kapasan Kemiri yang memiliki corak warna indah dan suara yang lumyan merdu. Karenanya dengan dituliskannya artikel ini mudah-mudahan dapat menambah pemahaman kita terkait ragam jenis burung ocehan yang masih belum umum terdengar dan salah satunya adalah burung Kapasan Kemiri. Terimakasih.

Referensi Tulisan:
http://www.kutilang.or.id/2013/04/23/kapasan-kemiri/

Referensi Gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Pied_Triller_(Lalage_nigra_striga)_-_female_-_Flickr_-_Lip_Kee.jpg

Sunday, December 3, 2017

Ragam Manfaat Buah Pepaya Bagi Burung Ocehan

Jenis pakan untuk burung ocehan yang berasal dari buah-buahan terhitung lumayan banyak dengan bentuk yang berbeda-beda. Masing-masing dari buah-buahan yang diberikan kepada burung ocehan memiliki ragam khasiat atau manfaat yang tak sama tapi sama baiknya untuk menjaga tubuh agar tidak mudah terkena penyakit. Selain itu, jenis buah-buahan yang sudah sangat umum diberikan untuk beragam jenis burung ocehan biasanya tidak terlalu banyak yang diantaranya adalah buah pisang ataupun buah pepaya. Tapi pada artikel ini hanya menjelaskan terkait buah Pepaya yang sudah lama dikenal sebagai pakan harian untuk burung ocehan. Adapun ulasannya dapat dibaca lebih lanjut di bawah ini.

Buah Pepaya merupakan salah satu jenis buah-buahan yang cukup digemari orang-orang diseluruh daerah di Indonesia. Alasan orang-orang banyak mengkonsumsi buah Pepaya disebabkan rasanya yang manis dengan tekstur daging yang lembut. Selain itu, buah yang dulunya berasal dari Meksiko ini dapat diolah menjadi beragam jenis makanan, minuman, dan sayur. Apalagi buah Pepaya tidak terlalu sulit mendapatkannya dengan hanya cukup mendatangi pasar tradisional dan modern.
Gambar: Buah Pepaya untuk Burung Ocehan
Disamping banyaknya yang menyukai buah Pepaya perlu diketahui juga nutrisi yang terkandung dalam buah ini. Ragam nutrisi yang ada pada buah Pepaya tergolong lumayan banyak yang di antaranya adalah Vitamin (A, B, E, dan K), Folat, Magnesium, Tembaga, Beta Karoten, Kalsium, Kalium, dan Lycopene. Selain itu, orang-orang yang memakan buah Pepaya akan memperoleh beragam manfaat yang belum tentu ada pada buah-buahan lain. Adapun manfaat tersebut adalah menjaga sistem kekebalan tubuh, menjadi anti inflamasi, menjaga kesehatan tulang, memperlancar sistem pencernaan, dan berguna mengurangi berat badan.

Walaupun buah Pepaya sangat baik dikonsumsi oleh kita tapi juga bisa dijadikan sebagai pakan untuk burung ocehan. Pemberian buah Pepaya untuk disantap burung ocehan sebenarnya sudah sejak lama diketahui dan banyak yang telah menerapkannya. Hal ini dikarenakan buah Pepaya sangat berguna untuk menurunkan birahi burung ocehan yang sedang tinggi. Selain itu, burung ocehan yang menyantap buah yang tekstur dagingnya berwarna oranye ini berperan dalam menjaga kesehatan tulang, memproteksi tubuh agar tidak mudah terkena penyakt, dan berguna untuk memperlancar sistem pencernaannya.

Adapun jenis burung ocehan yang bisa memakan buah Pepaya sebenarnya tidak hanya pemakan tumbuhan atau herbivora tapi juga dapat diberikan kepada burung pemakan serangga. Hanya saja, kebanyakan jenis burung ocehan yang hendak memakan buah Pepaya berasal dari burung pemakan tumbuhan seperti Pleci, Lovebird, Pancawarna, Cucak Ijo, dan Cucak Jenggot. Akan tetapi agar burung pemakan serangga pun berkeinginan memakan Pepaya maka dapat dilakukan secara perlahan hingga akhirnya mau menyantapnya dalam ukuran yang cukup banyak.

Pemberian buah yang bernama latin Carica Papaya ini untuk burung ocehan bisa disajikan tiga kali dalam seminggu. Pepaya yang diberikan pun sebaiknya yang sudah matang dengan kulit berwarna oranye kehijauan dan daging buahnya sudah berwarna oranye. Cara penyajiannya pun dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memotongnya dengan ukuran yang agak sedang dan disangkutkan dibagian tengah atau pinggir sangkar. Cara lainnya bisa memotongnya dengan ukuran kecil dan diletakkan ke dalam cepuk pakannya. Tapi ada baiknya sebelum diberikan dapat mengupas kulit dan mencucinya terlebih dahulu menggunakan air bersih. Selain itu, bila Pepaya yang ada di sangkar sudah mengalami perubahan warna dengan tampak membusuk maka ada baiknya menggantinya dengan buah yang baru. Tujuannya supaya burung ocehan yang menyantapnya tetap merasakan khasiat atau manfaatnya dan tidak terkena penyakit. Okey.

Referensi Tulisan:
http://www.mediaronggolawe.com/buah-pepaya-buah-yang-berkhasiat-bagi-burung-ocehan.html
https://manfaat.co.id/12-manfaat-buah-pepaya-untuk-kesehatan-dan-kecantikan
https://id.wikipedia.org/wiki/Pepaya

Referensi Gambar:
https://pixabay.com/en/papaya-tropical-fruit-pawpaw-ripe-771145/

Ragam Manfaat Buah Mangga Bagi Burung Ocehan

Bila ditanyakan tentang buah Mangga mungkin tidak ada satu pun dari para pembaca yang tidak mengenalnya. Hal ini dikarenakan buah Mangga merupakan salah satu jenis buah-buahan yang cukup banyak dikonsumsi orang-orang diberbagai negara termasuk Indonesia. Selain memiliki rasa yang manis dan agak asam terdapat banyak kandungan nutrisi pada buah Mangga yang tidak hanya baik dikonsumsi oleh kita tapi juga cocok diberikan kepada burung ocehan sebagai pakan tambahan. Untuk itu pada tulisan ini coba diulas terkait ragam manfaat buah Mangga bagi burung ocehan yang mengkonsumsinya.

Buah Mangga merupakan jenis tanaman berpohon besar yang umumnya hidup dilingkungan tropis. Ciri fisik buah Mangga memiliki kulit luar yang berwarna hijau dan untuk beberapa jenisnya ada yang berubah warna menjadi oranye kehijauan saat sudah matang. Daging buahnya berwarna oranye cerah dengan tekstur lembut dan berair. Ukuran buah Mangga tidak terlalu besar dengan bentuk memanjang dan bagian ujungnya agak melonjong. Selain itu, nutrisi yang terkandung dalam buah ini sangatlah banyak mulai dari Vitamin (A, B1, B2, B3, B5, B6, B9, C, E, dan K), Karbohidrat, Lemak, Protein, Kalsium, Besi, Magnesium, Mangan, Fosfor, Kallium, Natrium, dan Zink.

Adapun manfaat buah Mangga yang diperoleh orang-orang saat mengkonsumsinya juga sama beragamnya seperti mencegah sakit jantung, mencegah penyakit kanker, menjaga kesehatan tulang, melancarkan pencernaan, menjaga kolesterol agar tidak tinggi, dan menjaga kesehatan mata. Selain itu, buah Mangga dapat dikonsumsi dengan beragam cara baik memakannya secara langsung ataupun membuatnya menjadi manisan. Dan juga buah Mangga tidak hanya dapat dimakan oleh kita tapi juga bisa diberikan kepada ragam jenis burung ocehan.
Gambar: Buah Mangga untuk Burung Ocehan
Burung ocehan yang diberikan buah Mangga sebagai makanannya sangat berguna untuk menjaga kesehatannya agar tidak mudah terkena penyakit. Selain itu, buah Mangga juga dapat diberikan ke segala jenis burung ocehan tapi biasanya yang hanya ingin memakannya adalah pemakan tumbuhan atau herbivora seperti burung Cucak Ijo, Lovebird, Robin, dan Pleci. Manfaat atau khasiat yang dapat dirasakan burung ocehan yang mengkonsumsi buah Mangga juga tak kalah beragam seperti mampu menambah berat badan agar tampak proporsional, bisa berguna untuk menjaga kesehatan mata, dan membantu melancarkan sistem pencernaan. Tentunya bila burung ocehan sedang mengalami masalah kesehatan terkait rendahnya berat badan ataupun gangguan dibagian penglihatan maka tak ada salahnya memberikan buah Mangga sebagai suatu cara untuk menormalkannya kembali.

Adapun buah Mangga yang diberikan kepada burung ocehan bisa dilakukan dengan berbagai cara yang tergantung dari selera pemiliknya. Tapi sebelum dijelaskan caranya ada baiknya buah Mangga tersebut dicuci terlebih dahulu dengan air bersih baik saat sebelum dikupas atau sesudah dihilangkan kulitnya. Selain itu, pilihlah buah Mangga yang sudah matang atau masak dengan ciri seperti yang disudah dituliskan pada paragraf ke dua. Lalu buah Mangga tersebut dapat diberikan dalam bentuk utuh dengan menyangkutkannya dibagian pinggir sangkarnya. Tapi bisa juga memotongnya dengan ukuran sedang dan kecil yang nantinya diletakkan dibagian cepuk makanannya. Selain itu, buah Mangga pun dapat diberikan beberapa kali dalam seminggu tergantung dari kondisi burung ocehan.

Yup, itulah ulasan seputar manfaat buah Mangga yang tidak hanya baik dimakan oleh kita tapi juga bisa diberikan sebagai pakan tambahan untuk burung ocehan. Untuk itu dengan membaca artikel ini dapat menambah wawasan kita terkait ragam jenis buah-buahan yang dapat disajikan kepada burung ocehan kesayangan kita di rumah. Okey.

Referensi Tulisan:
1. http://www.burungocehan.link/2014/11/mengenal-khasiat-buah-mangga-bagi.html
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Mangga
3. https://manfaat.co.id/manfaat-mangga

Referensi Gambar:
http://maxpixel.freegreatpicture.com/Mango-Fruit-White-Yellow-Cut-Slice-Isolated-2471837

Sunday, November 12, 2017

Kumpulan Puisi XXVIII

Kumpulan Puisi XXVIII

Tak Tergenggam
Sudah berulang kali tangan ini menggenggamnya
Tapi selalu saja terlepas begitu saja
Setiap kali tangan coba erat mencengkramnya
Ia pun memilih jatuh lagi dengan suara dentingan yang lembut
Ada hasrat yang amat kuat untuk bisa membawanya pulang
Ingin dipajang agar selalu bisa memandanginya
Sambil menyunggingkan senyum yang rapuh
Dan sepertinya ia tak hendak bersama genggaman tangan ini
Memilih diam disitu dengan gaya membatu.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Kicauan Burung
Pagi masih buta yang diselimuti sisa malam
Sudah terdengar kicauan burung dari balik ranting pohon
Bersahutan yang entah apa dipercakapan mereka
Tiada satupun yang hendak mengalah agar diam
Walau suara ayam menimpali sekalipun burung itu masih saja berkicau
Mungkin saja anaknya hilang atau sangkarnya rusak
Tapi kicauannya itu sudah mengganggu tidur yang masih dihimpit rasa nyenyak.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Terabaikan
Dalam kerumunan orang yang lalu lalang
Sibuk menunduk melihat tarian kata dalam gadget digenggamnya
Ada seorang peminta yang berjalan sambil membungkuk
Dan berkata: “Bagi sedekahnya”
Tapi tiada satu daun telinga pun yang membukakan pintu ucapan itu masuk
Diucapkan peminta itu sampai sore diam membisu
Tetap plasik kresek untuk menambung recehan tanpa bunyi
Seperti ia sedang berada di tengah-tengah kuburan
Ramai tapi tak satu makam pun sedia bangkit menjumpainya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016


Dibawa Hanyut
Deras deru suara pedih keluar dari mulut yang sengsara
Berteduh dalam peratapan duka yang dihujani dengan rasa luka
Bergema bibirnya tak satupun ucapan ada yang keluar
Dengan mimik yang juga tak memiliki setetespun air mata
Meringkuk dalam gelap menuggu banjir kesunyian segera membawanya
Hanyut dalam hidup yang hampa dari makna.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Suara Siapa Itu?
Mencari dalam mata yang diselumti gelap
Cahaya jalan tiada lagi mampu menuntun jalan
Berjalan berangkak dengan tangan mengecap dinginnya tanah
Tapi ada yang bersuara sayup seperti berbisik
Lebar-lebar daun telinga membuka pintu agar suara itu terdengar
Sebagai pemandu untuk melewati lorong gulita ini
Sambil guratan hatipun ikut bertanya pada suara yang menuntun
Suara Siapa itu?
Terucap dari bibir yang lama dikatub amarah.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Tersenyumlah
Getirnya hidup ini telah memenjarakan kebahagiannya
Hari-hari yang dilewati hanya disapa dinginnya raut wajah
Seperti orang yang lupa dengan caranya tersenyum
Hilangnya senyuman yang dulu selalu terpancar dari sosoknya
Raib bersama mendung awan hitam di langit yang tak tergapai
Hingga membuat dirinya seakan tersiksa
Setiap kali melewati detik-detik hdupnya
Tolonglah, tersenyum lagi.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Pelukan Mu
Pelukan mu mendamaikan hati yang gelisah
Yang tak mengerti hendak mengarah kemana
Kalut dan amarah menjadi raja di jiwa ini
Dan keputusasaan memberikan wejangan menyedihkan
Engkau ada tanpa rasa sedikitpun takut
Ceria dengan sapaan tangan yang langsung
Mendekap diri ini dalam pelukan mu
Yang telah dirindukan.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XXVII

Kumpulan Puisi XXVII

Sinabung Tak Pernah Tidur
Sinabung sepertinya tak pernah ingin tidur
Kembali ia bersua mengeluarkan asap berdebu keberbagai penjuru
Sampai kepemukiman warga yang telah lama mengungsi
Membuat rasa takut semakin menyeruak tak ingin pergi
Orang-orang yang dikitari oleh Sinabung yang masih bernyanyi
Hanya ingin meminta agar sebentar saja Sinabung dapat tertidur.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Kebakaran Hutan
Sudah berapa banyak hutan yang telah hangus terbakar
Mungkin tak bisa lagi dihitung dengan jari yang ada di tangan
Hutan yang dikunyah oleh api yang memberangusnya
Hidupkan ketakutan pada binatang yang harus mengungsi menjauh
Dan juga menjangkiti penyakit sesak pada manusia yang bernafas
Karena udara bersih tak lagi bisa dicari ikut berbaur bersama asap yang memeluknya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Ujian pada Rakyat
Tidak hanya para pemimpin yang dapat ujian dari Tuhan
Untuk mengurusi rakyatnya agar tak sampai lapar dan bisa sejahtera
Dan juga agar pemimpin dapat amanah dalam memikul beban dipundaknya
Tapi pada rakyat pun sepertinya Tuhan ingin juga menguji
Menguji atas pemimpin yang telah dipilih yang melenceng dari fitrah janji
Yang membuat rakyat itu sengsara tak bisa merasakan nikmat apa-apa
Kecuali hanya lapar dan tidur beralaskan tikar yang berlobang
Sehingga ujian manis tersebut akan memberi pelajaran pada rakyat
Untuk lebih arif dalam menitipkan harapannya pada calon pemimpinnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Sampah di Mana-mana
Tak juga terlihat kota-kota ini tampak indah nan asri
Yang karena disesaki oleh sampah bergumal di mana-mana
Tak juga ada yang terpikir untuk mengutipnya agar bersih
Dibiarkan begitu saja hingga berpikir dengan sendirinya sampah itu hilang
Dan membuat sampah itu menghambat apa saja yang ingin lewat
Termasuk air yang hanya pamit ingin mengalir ikut terhalau
Hingga menjadikan kota-kota itu sering ditumpahi banjir yang sulit untuk surut.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Tak Pernah Redup
Lilin yang sudah mulai habis termakan gelap
Kini sinarnya pun ikut terkikis dan lenyap dalam sayu
Dan yang diteranginya ketika ia menyala harus kembali melihat pekatnya gelap
Tapi tidak bagi yang melindungi orang tersayangnya dengan senyum tulus
Mendekap dalam usaha yang tak pernah surut dan redup termakan waktu
Hingga yang dilindungi begitu terjaga dalam terangnya kebahagiaan
Sampai malam lupa berganti yang melindungi tetap terang selamanya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Daging Sapi Mahal
Sejak kapan daging sapi itu terbilang murah harganya
Mungkin hanya saat hari raya Idul Adha daging dibilang murah
Semua orang dapat memakannya entah siapapun ia
Tapi diluar itu tiada lagi daging sapi murah harganya
Terus melejit tinggi hingga seperti pajangan mewah di toko berkelas
Seperti terpatri bagi yang tidak punya uang untuk bisa mencicipinya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Dengan Rindu
Dengan katayang dirangkai dari kegundahan yang menggelegak
Terus mengasah tangan merangkai kata sampai tak tahu malam sudah larut
Kata yang dirangkai untuk bisa dibaca dengan hati yang bisa damai
Damai untuk tidak lagi khawatir akan nasib yang menulis untaian kata itu
Dalam kata yang ditulis itu berisi harapan untuk bisa berjumpa lagi
Yang memberikan kabar bahagia demi menghibur rindu.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Entah Siapa
Entah siapa yang merdeka di bumi pertiwi ini?
Entah orang miskin entah juga itu orang-orang kaya
Entah juga siapa yang menghirup aroma kemerdekaan?
Entah orang yang selalu tertindas entah pula orang yang biasa menindas
Dan entah pada siapa merdeka itu bisa berkumandang?
Entah pada semua orang atau hanya milik satu dua orang saja
Lalu, entah lah.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.
Kumpulan Puisi XXVI

Kumpulan Puisi XXVI

Sepenggal Kata
Tak mudah untuk mengurai kata yang sepenggal ini
Dalam maknanya seperti menyelamani laut yang penuh kata
Mencerna tiap huruf dari kata itu membuat malam begitu cepat berubah
Menjadikan siapapun yang membacanya tidak mengerti maksud sebenarnya
Dari kata yang sepenggal itu berada di ujung kalimat.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Gelap Sejenak
Pagi yang seperti biasa disinari oleh cahaya matahari
Menarik tirai malam yang penuh dengan warna gelap yang kuat
Tapi pada pagi kali ini langit tampak tak biasa menunjukkan sikapnya
Hanya sedikit saja tirai gelap itu mampu disibak oleh yang bercahaya
Membuat kilau-kilau warna terang keemasan terlihat luntur ditutup tirai yang gelap
Walau hanya sejenak saja.


Beranda Sanggar Pelanggi, 2016. 


Malangnya
Mengungkap sebuah kisah yang bisa menguras air mata
Dari seorang manusia yang hidup penuh dengan kemalangan
Dalam maksudnya berbuat agar bisa menolong yang lain
Tanggap menghinggap disambut pula dengan ucapan yang menyayat hati
Hatinya yang begitu kuat dengan ragam cacian dan hinaan
Menjadikan ia begitu tabah dan terus berbuat tanpa meminta dianggap ada
Saat sosoknya telah hilang ditelan bersama waktu
Barulah tersadar kalau ia begitu punya arti pada sekitarnya
Sehingga tampaklah ia seperti manusia yang malang.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Mampet
Mampet mengisi setiap lembar kehidupan yang dilalui oleh siapa saja
Yang menggambarkan begitu banyak sendatan yang menghalangi lancarnya urusan
Dalam setiap langkah dan maksud yang dimiliki kata mampet hinggap tak pernah pergi
Seperti dijalan penuh dengan kendaraan yang tak pernah mau bergerak
Begitu juga sungai dan parit-parit pun ikut mampet dihalangi oleh sampah bergelantungan
Hingga sampai hidungpun dapat mampet kalau sakit datang mendera.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Setangkai Mawar
Ada setangkai mawar merah yang terjatuh
Yang empunya telah hilang lupa tentang nya
Kasihan mawar yang setangkai itu sendirian saja
Tersentak hati membawanya pulang
Meletakkannya pada sebuah vas kaca yang berisi air
Agar merah warnanya tidak layu tersengat panas
Dan menghiburkan dari luka lara tertinggal sendiri
Dalam meminta setangkai mawar itu bisa berbagi sukanya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Jalan Rusak
Sakit perut ini terombang ambing di jalan
Yang dipenuhi lubang sepanjang mata memandang
Jalan yang hancur diinjak truk yang membawa beton
Berat yang berton-ton itu melintas setiap hari
Peduli apa truk yang lewat itu pada jalan
Sampai akhirnya sebelan bannya ditelan habis
Oleh jalan yang lama merintih sakit.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Berbalut Debu
Tak usah bicara makan tiga kali sehari
Kalau tidur pun selalu beralaskan kardus bekas selimut elektronik
Yang terbaring menggigil di depan toko-toko
Sembari berharap pada Tuhan agar hujan jangan turun dulu
Melihat jasad ini pun dengan busana yang mewah
Dengan balutan debu yang disulam selama siang berlalu-lalang kendaraan.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Friday, November 10, 2017

Kumpulan Puisi XXV

Kumpulan Puisi XXV

Segalanya Jadi Panas
Basah sudah baju ini karena keringat yang bercucuran
Seperti tak ingin berhenti mengalir dengan hawa yang menguap
Disebabkan panas yang amat luar biasa menyengat
Yang tidak hanya badan saja dibuatnya sampai mencurahkan keringat
Tapi alam pun ikut layu bersama dengan air yang mengering
Diikuti pula oleh pikiran yang tidak lagi mudah untuk berbicara
Hanya dibalut rasa marah dengan ingin bermusuhan pada siapa saja.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Diufuk Barat
Terjaga diri ini saat matahari melipat malam dan menggantinya jadi pagi
Disambut riang oleh riuh suara ayam jantan yang terjaga pertama
Bersama dengan itu lapang pikiran dinuansakan pada senyum yang tak putus
Untuk menyambut pagi dikala fajar itu bernyanyi diufuk timur
Hingga siapapun tak ingin melewatkannya dengan sibuk untuk berkreativitas
Agar tidak ada yang jenuh apalagi sampai merenung kesepian
Sampai nafas lega terhembus kala sang fajar itu menyudahi nyanyi yang merdu
Ketika ia tersenyum pada sesiapa pun yang menikmati harinya
Sebelum ditutup oleh tirai pertunjukan diufuk barat berwarna kuning terang.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Malangnya Anak-Anak Itu
Jalan yang entah kapan sunyinya
Begitu ramai diisi oleh mesin berjalan dan yang berlalu lalang
Disisipi oleh tawa-tawa mungil yang saling berlarian di jalan itu
Mereka itu adalah anak-anak yang menjajakan apa saja kepada siapa saja di jalan
Dengan wajah lusuh yang penuh debu dan baju yang serba longgar
Tanpa peduli lagi pada rasa aman yang sudah hampir lepas dari raganya
Untuk mengutip tiap keping uang receh dari yang kasian melihat mereka
Hanya untuk biar besok masih ada yang bisa disantap sebagai pengganjal perut
Karena sudah tidak ada lagi yang sanggup menghidupi anak-anak itu
Dari dunia yang teramat keras sekali bagi mereka.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Sembako Murah
Rakyat-rakyat yang hidup dalam kemelaratan
Dihimpit dalam gundahnya untuk membeli sembako yang kian mahal
Sembako itu dibutuhkan untuk menyenyakkan bayi dan anak-anak yang tersentak dari laparnya.
Telah banyak yang diperbuat untuk membelinya dengan kerja yang memeras darahnya
Tapi tak jua cukup untuk membeli sembako itu
Karena harganya yang mahal membuat mereka tak sanggup membeli semuanya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Setetes Air
Air yang tumpah ruah di tanah pertiwi ini
Seakan menunjukkan betapa suburnya negeri ini untuk menghidupi kami semua
Saat dipikir tentang air yang melimpah mungkin tak ada yang mati kehausan
Atau juga luntang-lantang mencari air hingga ke bawah batu
Tapi nyatanya itu yang tak mungkin sekarang jadi mungkin terjadi
Tentang mahalnya sudah harga air bagi tanah pertiwi yang melimpah air
Entah siapa yang memonopoli atau tangan kami yang telah mencemari air itu
Dan sekarang setetes air sangat berarti untuk kami melanjutkan hidup.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Tangisan yang Tak Pernah Kering
Diucapkan satu patah kata dengan sendu yang terbata
Dari seorang manusia yang hatinya sedang pilu merana
Bukan karena dikhianati oleh kekasih atau sahabatnya
Tapi ia begitu kecewa pada yang dipilihnya untuk mengayominya
Kecewa karena ia telah lupa dengan janjinya dan membiarkan seorang manusia itu merana
Dan dalam sedihnya seorang manusia terus menangis memohon kepada Tuhan
Untuk membuka lagi hatinya yang ketika dulu begitu tulus
Demi agar ia tak jadi seorang manusia yang ingkar janji.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.

Wednesday, November 8, 2017

Kumpulan Puisi XXIV

Kumpulan Puisi XXIV

Rusaknya Alam
Alam kini tak lagi indah seperti saat dahulu kala
Ketika dihuni oleh hutan yang tak terkira jumlah dan satwa yang menari ria
Akan tetapi alam yang mulai diganggu oleh tangan jahil
Menumbuhkan tetesan api yang menghanguskan alam hingga tak tersisa
Juga dibubuhi oleh tebangan pohon dan pemburuan pada satwa
Menjadikan alam tampak tandus yang bertumbuhkan pasir gersang
Apalah daya alam yang tak bisa melawan apalagi harus menggugat
Sehingga yang berpikirlah dapat mengerti untuk membelanya
Agar kembali indah seperti sedia kala ia tumbuh.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Banjir dan Longsor
Ratusan rumah yang dihuni puluhan ribu orang habis terendam air
Air yang berubah menjadi banjir meluap dari sungai yang kandas oleh sampah.
Mewabah hingga menghancurkan rumah dan yang dilewatinya tanpa permisi
Sampai tanah pun tak lagi bisa menahan kuatnya air yang menerjang itu
Hingga membuat tanah itu hancur dan mengubur yang di bawahnya
Menjadikan nyawa-nyawa yang tidak mengerti pun ikut hanyut entah kemana
Karena disasar air banjir dan tanah yang longsor.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Menyambung Jembatan Rusak
Dalam kumpulan orang-orang yang jauh dari perkotaan
Saling terputus oleh sungai yang tampak seperti jurang tiada ujung
Menyulitkan menyeberang karena jembatan penyampung telah rusak
Rusak digerus zaman yang lupa untuk merawatnya agar abadi
Yang melewati jembatan rusak itu pun tertatih-tatih takut melihat dalamnya sungai
Dan akhirnya jembatan itu disampung dengan swadaya seadanya
Karena tidak ada yang peduli pada jembatan rusak dan usang itu.
Walaupun jembatan itu bisa menyambung pendidikan dan hidup bagi kumpulan orang-orang itu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Meratap Pilu
Dengan penuh kesedihan yang tak terkira sakitnya
Ia hanya mampu untuk meratap pada langit yang diwarnai hitam pekat
Melantunkan doa-doa yang hampir sebenarnya menyerupai sumpah
Meminta agar tak lagi ia dikhianati oleh janji-janji yang menjunjung langit
Dengan harapan yang didambakannya dipenuhi kebahagiaan
Melalui janji yang apa adanya disampaikan oleh hati yang tulus
Tanpa memiliki maksud untuk mengkhianati kepada yang menerima janji
Hingga tak perlu ada lagi yang meratap pilu berurai air mata.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Satwa yang Malang
Selalu diburu sampai rumahnya pun ikut dibakar
Betapa malangnya nasib satwa liar ini sekarang
Tak lagi ada gunanya julukan raja rimba ataupun hutan
Semuanya berlari ketakutan meninggalkan tempat hidupnya
Dari kejaran yang sedang mengokang senapan dan tombak
Untuk menangkapi satwa liar itu apapun jenisnya
Guna diperdagangkan mengeyangkan perut
Dengan nafsu yang membinasakan satwa liar.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Kelaparan
Gemetar kaki dan tangan
Tak lagi kuat menopang tubuh untuk tetap terus berjalan
Menyusuri tempat-tempat yang mungkin terdapat makanan
Untuk mengganjal perut yang hanya diisi angin
Tapi apalah daya tak jua ada yang bisa dikunyah
Walaupun hanya sekedar bau sedap saja
Supaya lapar ini tak sampai menyudahi hidup yang masih panjang
Mesti dijalani lagi.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Monday, November 6, 2017

Kumpulan Puisi XXIII

Kumpulan Puisi XXIII

Pegangan Pada Tali
Jembatan yang umurnya sudah lama sekali
Telah banyak dilalui oleh orang-orang yang butuh menyeberang
Kini jembatan itu telah tampak reot dimakan hujan dan panas yang menyengat
Perlahan-lahan pun kayu yang sebagai alas menjadi rapuh tak terlewati
Satu demi satu mulai berjatuhan telungkup ke dasar sungai yang ganas
Dan tali pegangan jembatan itupun mulai hilang seratnya
Hingga yang menyeberang begitu sangat ketakutan
Sampai tali yang tak kuat lagi itu dipegang erat sekali.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Mawar Berduri
Begitu merah warna pada bunga mawar yang sedang mekar
Hingga sesiapapun yang melihat begitu terpana ingin sekali bisa mencium dan memegangnya
Tapi tak semudah itu ia bisa disentuh oleh sembarang tangan yang menjamahnya
Karena ada duri-duri yang memagari agar mawar tak sampai terluka
Sehingga mawar akan tetap tampak mempesona mesti tak bisa memegangnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Sungai yang Tercemar
Teringat dulu di sungai itu ramai diisi oleh orang-orang
Yang ingin mandi, mencuci, atau hanya sekedar memancing
Melihat kejernihan air sungai yang mengalir dengan tenangnya
Sampai membuat keceriaan terus bersua hingga petang menyingsing
Dan saat sungai-sungai itu dialiri limbah serta sampah
Bau menyengat pun menyeruak dari dalam sungai
Menikam ikan-ikan yang mati dan kabur menjauh
Akhirnya orang-orang pun tak lagi ada yang mau mendatangi sungai.


Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Pekik Anak Itu
Pekik anak itu yang sudah lama menangis
Berada dalam keramaian orang-orang kesana kemari
Tapi tak ada yang benar-benar mendengar dengkuran suara tangisan itu
Sibuk dengan tujuannya sampai tuli dengan yang disekitarnya
Membuat anak malang itu memekik sejadi-jadinya
Tetap ia hanya sendiri saja di tengah yang kerumunan
Sedang pilu mencari ibu yang terlepas dari genggaman tangannya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Mati Lebih Lama
Ada samar-samar suara membelah angin yang terlampau pagi
Saat matahari pun masih sedang bersiap untuk terbit
Kala bulan juga sudah mau berpamitan untuk merehatkan hatinya
Suara sayup itu menyusup di antara orang-orang mati
Hendak menghidupkan kembali mereka yang dsentil jemarinya
Agar bisa menikmati orang-orang merasakan damainya udara pagi
Yang tidak berdebu.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XXII

Kumpulan Puisi XXII

Pagi yang Mendung
Dengan menatap langit pagi yang didambakan
Tergambar sebelum mata terbuka untuk melihat langit itu
Dalam nyata langit telah menjadi kelabu hitam seperti ingin menangis
Dan membuat hati ikut juga terhanyut dalam buaian langit yang mendung
Ikut menjadi sedih dan masuk kembali ke dalam peraduan.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Ombak
Sengaja ombak itu ditantang oleh yang sudah lupa pada matinya
Untuk dapat mengayuh seluas mungkin laut yang diseberanginya
Agar dapat menemui ikan-ikan yang berpesta di bawah pusaran ombak
Supaya dapat dibawa lari menuju daratan yang tak berombak
Walaupun deru ombak itu menelan ia dan perahu yang ditumpanginya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.  


Di Atas Gedung
Kaki ini sudah menjilat tingginya gedung yang menunjuk langit
Di atas gedung itu mata sudah tak mampu lagi melihat barisa semut yang berjalan
Dan tak mampu juga menembus batas langit yang masih terbentengi oleh awan
Dari atas gedung itu yang tampak adalah kaki yang menginjak ternyata jauh lebih tinggi dibanding gedungnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.  


Sirine Kelabu
Terdengar suara sirine yang dapat menembus batas keramaian
Keramaian yang bermuara di jalanan dan dipenuhi dengan kebisingan
Sirine itu lewat dengan pesan yang semua dapat mengerti
Hingga sesiapapun yang melihat dan mendengarnya membiarkan lewat agar suaranya lekas berlalu
Karena sirine itu berlalu dengan membawa orang-orang yang terkena musibah.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Pecahnya Perahu
Perahu yang tak begitu tampak besar
Hanya tinggal satu mengapung di ujung pelabuhan
Diinjak oleh orang-orang yang ingin meninggalkan daratan
Dengan berlari kencang seperti ketakutan
Riak air mata terus berurai disambut pekik tangisan
Orang-orang itu hanya bisa saling mendorong pada sesamanya
Hingga membuat perahu itu berubah menjadi sesak
Sampai di tengah laut perahu itu pun ikut menjerit kesakitan
Dan akhirnya pecah berantakan menghamburkan orang-orang ditelan laut.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Tersenyum dalam Lelah
Muka yang selalu dibedaki oleh debu jalanan
Bukan sengaja dibuat untuk melihat diri jadi elegan
Tapi berjibaku untuk mengais rejeki sedikit demi sedikit
Bekerja yang tak lagi melihat kapan matahari terbit dan tenggelam
Selalu dilakukan agar yang dicintai bisa hidup nyaman
Dan pulang dengan tersenyum lepas
Walau lelah sudah hampir menikam jantungnya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Pada-Nya
Pada-Nya semuanya bersimpuh
Melepas semua titah yang menempel dibahu
Sambil berlutut diikuti mimik wajah yang hendak menangis
Lirih suara terdengar diucapkan dengan terbata-bata
Hanya mempasrahkan diri agar Ia mendengar semua doa-doa
Yang penuh dengan rasa harap pada-Nya.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Sunday, November 5, 2017

Kumpulan Puisi XXI

Kumpulan Puisi XXI

Mengatup Rasa Itu
Rasa yang sudah mengatup
Ibarat seperti tumbuhan putri malu
Tersentuh jemari dengan sapaan tidak disengaja
Ia sudah menutup rapat tiap-tiap pintunya
Tak ada satupun yang bisa dibuka
Walaupun sudah mengucapkan salam penuh santun
Entahlah, mungkin perasaannya sudah mulai dikatup.
Erat dan sangat rapat sampai angin pun tak boleh mampir.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Tak Melihatnya Lagi
Setiap malam yang binar dengan gemintang
Tiada lagi gelap yang menyelumti pandangan ini
Sosoknya pun begitu bercahaya terlihat dari jauh
Terangnya sinar yang mengitari tubuhnya
Membuat raga ini tak sanggup untuk mendekatinya
Dan hanya memandangnya dari kejauhan setiap malam

Tapi saat binar cahaya bintang itu mulai redup
Hilang perlahan cahaya terang yang disapu gelap
Kucar-kacir mata ini mencari jejaknya yang mulai tersamar
Diselumuti gelap malam yang mendekapnya begitu erat
Hingga akhirnya tak ada lagi tanda ia berada di sini
Menghilang entah raib kemana.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Menanti Belas Kasihan
Hampir mengering tubuh yang kerempeng ini
Hanya dibalut kulit dengan raut wajah yang lesuh
Tersandar di sudut dinding yang dipanggang oleh ganasnya matahari
Tak satupun ada lagi yang mampu dikunyah
Entah itu nasi, daging, atau air yang dulu banyak dimana-mana
Dalam bersandar itu cuma mulut yang mampu bergumam
Berharap langit ikut terharu dan menumpahkan setitik air matanya
Agar tak sampai malaikat yang gemar menjemput maut itu
Sempat untuk mendatanginya yang tak lagi bisa menentang apa-apa.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Lupa Pada Alam
Alam yang menyediakan semuanya
Semuanya yang manusia butuhkan untuk hidup
Tidak hanya sekedar hidup dengan terisinya perut
Rias wajah dan gaun yang tersemat di tubuhpun berasal dari alam
Walau alam ada untuk manusia yang disayanginya
Entah kenapa tidak begitu pula manusia yang memperlakukan alam
Sesekali alam tampak menjerit kesakitan yang tak bisa diungkapkannya
Dengan mengumpakan alam hanya sebagai sapi perahan
Yang lupa untuk diperhatikan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Mengingat pada Rindu
Dengan kata apa lagi yang ingin diucapkan
Tak satupun ada kata yang cocok untuk menggambarkan yang ada di hati
Tentang perasaan yang membuat semuanya jadi satu
Berbaur pada senyum yang sangat ingin bertemu
Dengan juga ada warna sedih tentang kabar yang ada di sana
Menanti dalam waktu yang semoga dapat mendekatkan
Agar tak lagi diri ini ingat pada rindu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Gerimis
Pekatnya abu yang bertebaran di kota ini
Yang berserakan bersama dengan jalan yang dipenuhi oleh rasa sesak
Dari kendaraan dan orang-orang yang lalu lalang tanpa henti
Menanti abu ini dapat segera terurai dan hancur
Sembari melihat langit yang tampak agak menghitam
Sambil berharap agar hitamnya langit itu pertanda gerimis akan turun
Biar abu-abu ini tidak lagi bergentayangan yang membuat sesak dada saja.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Tandus
Tandus yang mengubah basah menjadi kering dan berpasir
Hingga tak secuilpun dapat dimakan ataupun dibawa untuk diminum
Umpama tandus itu merasuk dengan kelangkaan yang ada di negeri ini
Langka dengan airnya walau hujan datang
Sulit dicari makanan yang murah lagi
Dan langka dengan janji untuk tak lagi menipu yang berharap
Hingga yang terpinggirkan semakin lama dalam mencari
Mencari oase yang isinya adalah dapat meredam lapar dan haus.
Yang itu juga entah dimana tempatnya
Mungkin bisa saja telah lenyap berubah jadi pasir yang tandus.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Kerlap-kerlip
Ramai sekali cahaya di malam akhir tahun
Berisi dengan dentingan petasan dan suara terompet
Mengaung-ngaung seperti mengajak malam agar cepat dapat berganti
Berganti di tahun yang baru dengan harapan yang digantungkan tinggi-tinggi
Pada suasana malam yang kerlap-kerlip.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.
Kumpulan Puisi XX (20)

Kumpulan Puisi XX (20)

Menanti Pagi
Mata tak bisa menutup rapat
Kala malam sudat teramat larut dengan tanpa apapun yang ada dilangit
Disuguhi dengan hujan yang menari rapi sampai menderukan suara
Membuat tubuh sangat menggigil dimakan dingin yang tak terperi lagi
Sambil duduk beralaskan kardus yang dikutip dari tempat sampah
Duduk dengan memeluk diri sendiri mengunggu hujan ini reda
Dan meminta agar pagi bisa segera kembali lagi.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Cabai Busuk
Sudah begitu memperihatinkankah kondisi ekonomi rakyat kita
Saat cabai yang merah merona tak lagi bisa terbeli
Dengan pundi-pundi rupiah yang dikumpulkan dari sana sini
Harga yang melangit mmbuat pedasnya cabai menusuk hulu hati
Tak lagi bisa lidah ini mampu mengecapkan pedasnya dengan benar
Akhirnya cabai yang sudah menghitam pun diburu
Hanya sekedar agar pedasnya cabai itu tak hilang
Dari kebiasaan lidah yang mencintainya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Gerimis
Dari jendela kaca ini bisa dipandang
Langit yang keruh dengan awan hitam mengelilinginya
Disertai rintik hujan yang tak begitu deras menyapa jendela
Dengan sapaan biasa tanpa senyum atau tawa
Membuat gelapnya daratan seperti sangat hampa
Entahlah, setidaknya berharap saja pada matahari
Agar segera muncul kembali memancarkan sinarnya
Sehingga gerimis itu berganti dengan pelangi.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Menanti Senja
Saat matahari hendak tidur dari akttvitas panjangnya
Disitulah banyak yang mengantarkannya tidur
Menemaninya dengan berdiri di tepian dermaga yang berair asin
Sambil memandang luasnya air yang menutupi daratan
Demi agar senja segera hadir memancarkan sinar orange
Yang hanya tampak sekejap saja
Sebelum wujudnya hilang ditelan malam yang gulita.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Batas Kata
Cukuplah sudah perdebatan panjang ini
Ada puluhan ribu kata telah diucapkan tanpa arah yang jelas
Tanpa memberikan satu kesimpulan dalam kesepakatan
Mungkin rehatlah waktu yang ada sekarang
Untuk memilah kata yang tepat
Menemukan satu kepastian untuk yang sedang dibicarakan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Angin Yang Berhembus
Angin berhembus menepuk pundak yang tegang
Sengaja dalam sapaannya itu ingin menenangkan kalut di hati
Yang dikeringkannya pula keringat mengucur deras dari pundak
Agar tubuh tidak berubah jadi patung yang tak mampu mengucap apapun
Supaya mulut ini sedikit berani berkata sepatah saja
Dalam obrolan yang dialami oleh dua pasang manusia
Yang sama-sama mati akan katanya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Saturday, November 4, 2017

Kumpulan Puisi XIX

Kumpulan Puisi XIX

Menanti Hujan
Riak suara hujan ramai membanjiri tanah-tanah yang sudah lama kering
Tapi tanah itu bukanlah sekarang sedang kami pijak
Tidak setetes pun air ada yang hendak turun dari singgasana langit
Yang sedang dinanti ribuan orang dengan melihat sungai dan sumur perlahan kering
Sebab air yang sangat ingin kami tampung itu
Bukan hanya digunakan untuk melepas dahaga kami
Tapi mampu menyambung nyawa ternak dan tanaman
Yang sedang menggigil kehausan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2017. 


Bunga Mawar
Bunga mawar yang indahnya tiada tara
Mekar dalam satu tangkai dengan warna yang teramat cerah
Tangkainya yang berpagarkan duri-duri kecil
Sering tak terlihat kala siapapun hendak menggenggamnya
Tanpa sadar rasa sakit menusuk jari-jari yang tidak dulu berpikir
Tapi untunglah . . .
Tangkai mawar itu tak sampai patah.

Beranda Sanggar Pelangi, 2017.


Menanti Hujan 
Tak lagi ada rintikan hujan turun membahasi tanah ini
Yang sudah sangat haus hingga tampak retak-retak
Apa yang berdiri di atas tanah kering itu mulai goyah
Sulit untuk berdiri tegak dan hanya bersandar pada dinding rapuh
Hingga dengan satu dua kalimat terucap sambil terbata-bata
Meminta agar langit bisa ikut terharu melihat tanah yang haus
Lalu menangis agar tanah itu tidak sampai mati meradang.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Melepas Senyum
Sudah cukup jarang wajah yang ceria itu tersenyum lagi
Seperti saat dulu setiap dentingan waktu terlewati dengan tawa
Tak pernah dijumpai sedih sampai melinangkan air mata
Tapi kini wajah bahagia itu berubah menjadi murung
Ketika hatinya mendapat kabar yang membuatnya gundah gulana
Dan hari-hari yang dilaluinya pun kini hanya berisikan rasa putus asa
Mungkin dengan menghidupkan cahaya keceriaan yang hampir redup di hatinya
Yang bersedih itu bisa dapat kembali melepaskan senyumnya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Menanti Pagi
Mata tak bisa menutup rapat
Kala malam sudat teramat larut dengan tanpa apapun yang ada dilangit
Disuguhi dengan hujan yang menari rapi sampai menderukan suara
Membuat tubuh sangat menggigil dimakan dingin yang tak terperi lagi
Sambil duduk beralaskan kardus yang dikutip dari tempat sampah
Duduk dengan memeluk diri sendiri mengunggu hujan ini reda
Dan meminta agar pagi bisa segera kembali lagi.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Cabai Busuk
Sudah begitu memperihatinkankah kondisi ekonomi rakyat kita
Saat cabai yang merah merona tak lagi bisa terbeli
Dengan pundi-pundi rupiah yang dikumpulkan dari sana sini
Harga yang melangit mmbuat pedasnya cabai menusuk hulu hati
Tak lagi bisa lidah ini mampu mengecapkan pedasnya dengan benar
Akhirnya cabai yang sudah menghitam pun diburu
Hanya sekedar agar pedasnya cabai itu tak hilang
Dari kebiasaan lidah yang mencintainya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Gerimis
Dari jendela kaca ini bisa dipandang
Langit yang keruh dengan awan hitam mengelilinginya
Disertai rintik hujan yang tak begitu deras menyapa jendela
Dengan sapaan biasa tanpa senyum atau tawa
Membuat gelapnya daratan seperti sangat hampa
Entahlah, setidaknya berharap saja pada matahari
Agar segera muncul kembali memancarkan sinarnya
Sehingga gerimis itu berganti dengan pelangi.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XVIII

Kumpulan Puisi XVIII

Melamun
Agaknya negeri ini sedang dilanda keriuhan
Seperti terpaan angin yang mengamburkan apa yang dijamahnya
Yang saat ketika nafsu memundaki kepala yang tertawa bahagia
Lupa dengan seribu kata yang dahulu bisa menidurkan kebingungan
Hingga sewaktu masa yang dijalani telah perlahan berlalu
Beribu rimah harta yang bisa ditumpuk seperti gunung emas
Sampai yang jelata-jelata tetap hanya bisa memandang dalam bingungnya
Dengan semua lamunannya yang masih mengiangi telinganya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015  


Daun yang Gugur
Pohon yang sudah teramat tua
Hidup mengabdi meneduhkan bagi yang menyandarinya
Tiada pernah pamrih yang dimintanya dari perbuatan tulusnya
Hingga membuatnya terus didatangi oleh makhluk-makhluk yang kelelahan
Sampai pada suatu masa daunnya sudah mulai gugur satu demi satu
Membuat rasa sedih dalam kalbunya yang mengisyaratkan dengan kata
: “sampai disini aku bisa mengabdi”.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015  


Serba Palsu
Tulus sudah begitu langka terdengar saat ini di mana pun
Semuanya sudah berubah menjadi tabu dan dibumbui kepentingan
Hingga bermetafora menjadi kebohongan yang semu
Palsu sebutlah demikian tidak hanya menghengkam warna politik
Tapi sudah masuk menjalar keberbagai sendi hidup rakyat
Dengan kesan harga murah dan kualitas seadanya
Dan kepalsuan itu kini telah ada dalam suapan nasi masyarakat.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Rasa Rindu
Hujan yang deras turun ikut menghipnotis kalbu
Turut membahasi jiwa yang sedang bimbang
Yang butuh kata-kata untuk memompa jantung kembali berdetak
Dalam denyutan akan teringat buayan kasih sayang yang sendu
Dari tangan-tangan yang berwajah riang kala bertemu
Dan dalam kesendirian ini rindu itu bersemai bersama hujan yang turun.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Menampung Janji
Janji terucap dari yang sedang punya kepentingan
Yang mengucapkan jutaan kata penuh dengan kebahagiaan
Mampu memantik suara tepuk tangan riuh dari yang mendengarkan
Disampaikan dengan nada yang berani menantang bisingnya suara kendaraan
Tak habis-habis nya janji itu diucapkan
Sampai yang mendengarkan diminta untuk menampungnya
Hingga bingung harus meletakkannya dimana lagi.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Diam Sendiri
Banyak sekali suara yang terdengar
Seperti bunyi sayap lebah yang sedang mengerubungi sarangnya
Bising tak terkira lagi sampai telingapun tak mengerti membacanya
Begitu terus tanpa peduli dengan yang disekitarnya
Hingga yang tak tahan pergi menjauh dari bisingnya suara itu
Menyendiri sejenak sambil terdiam memandang mereka semua
Yang bising itu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Galian Parit
Banjir sudah seperti tamu yang selalu diundang
Kala hujan datang dengan lebat yang mengguyur kota ini
Melenyapkan rupa parit yang menyatu dengan hitamnya jalan
Kini melihat banjir seperti tamu yang tak tahu diri
Ingin mengusirnya pergi dengan menggali parit
Dengan mengajaknya hilang ke dalaman parit
Dan membawa jauh sepanjang parit itu ada.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XVII

Kumpulan Puisi XVII

Macet
Suara bising selalu menghiasi jalan raya
Disesaki kendaraan yang tak bisa bergerak leluasa
Terjebak di antara deru suara mesin dan klakson
Ada pula yang menimpali dengan nada tinggi dan kasar
Karena sudah tidak tahan lagi pada sengatan panas dan dinginnya hujan
Yang mencubit kulit pengendara terperangkap macet di jalan raya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Sulit
Diusahakan segala cara untuk mencapai itu
Dengan menghabiskan jatah keringat di dalam kulit ini
Kerja keras adalah santapan makan yang dianggap penuh gizi
Agar yang diangankan itu tercapai
Tapi semua usaha itu agaknya berkata lain
Meminta pada jiwa untuk selalu tegar menghalau buruknya nasib
Demi menanti bahagia yang hanya dimiliki dalam kegigihan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.


Rindu
Menggigil terkadang tubuh ini
Padahal tidak sekalipun hujan ada yang menyentuh kulit kasar ini
Tapi setiap malam yang diheningkan pada kesunyian
Membuat perasaan teramat dingin memeluk jiwa ini
Hingga badan pun tak kuat menanggungnya
Betapa hebatnya perasaan yang berkecamuk ini
Mungkin ini adalah rindu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.  


Manis Janji
Kalah sudah manisnya gula yang dikerubungi oleh si pemuja semut hitam
Dikata oleh mereka yang tertikam hulu hatinya
Sebab sejuta janji telah mendongengkan mimpi malam mereka
Dalam alunan nada romantis dengan berangkai berita baik
Untuk perbaikan hidup dihari esok
Saat janji yang melayang ditarik satu per satu
Tiada satu pun memberi asa seperti dimasa lampau
Hingga mereka berujar manis janji yang memilukan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015


Sialnya si Tikus
Ketika koruptor begitu menjamur di negeri ini
Banyak yang menyangkakan ia sama seperti tikus
Yang suka hidup di dalam got penuh dengan kumpulan sampah
Dan berperilaku gemar mencuri apa saja untuk dikunyahnya
Tidak salah menyamakan sesuatu kepada yang lain
Tapi betapa sialnya bagi si tikus yang harus disebut koruptor
Padahal koruptor lebih kejam prilakunya dibanding tikus
Yang cuma suka memakan sabun dan pakaian bekas.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015  


Kicauan Burung
Penyegar dipagi hari yang cerah
Dengan merdunya alunan merdu suara burung yang berkicau
Dibalik rindangnya pohon dengan suara bersahut-sahutan
Bak pemantik semangat untuk membiarkan wajah tetap tersenyum
Saat akan menjalani riuhnya jalan-jalan yang berdebu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015


Rakyat Berduka
Wajah berbinar duka sedang merundung rakyat negeri ini
Betapa tidak!
Yang diharapkan dalam tiap tangisan rakyat untuk mengubur kejahatan
Kini sedang bersiteru dan melemahkan satu sama lain
Tak ada yang mengerti apa sebabnya itu terjadi
Tapi para penjahat sedang bersuka ria di atas penderitaan rakyat yang butuh keadilan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.

Friday, November 3, 2017

Kumpulan Puisi XVI

Kumpulan Puisi XVI

Maaf
Maaf. Terucap dari dalam lubuk hati
Menghantarkan jamuan keteduhan jiwa yang mudah merendah
Tidak sampai bersombong-sombong ria
Cukup ulurkan tangan dan menyampaikan kekhilafan diri
Hingga tali persaudaraan tersambung kembali.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Dari Kursi Empuk
Dari kursi yang berbalut kapas yang lembut
Membuat ketenangan dalam rajutan kain sutera
Ditopang dengan sulaman gambar kemegahan yang kakukan mata
Sampai badan dan jiwa ikut membatu berdiam dalam kursi itu
Karena kursi itu terasa begitu empuk
Baiknya diganti saja dengan kursi yang beralaskan papan reot.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Bergejolak
Dalam ketenangan yang sudah damaikan hati
Tiap-tiap orang hidup dalam canda dan tawa setiap harinya
Tidak ada luka dan hanya terciprat kebahagian
Hingga saatnya itu seakan sirna karena ada yang bergejolak
Seperti ingin muntah yang mengeluarkan ketakutan membuat badan terus menggigil
Sampai gejolak itu sudah agak meredup kaki bergetar tak pernah mau diam.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.


Ramadhan 
Bulan suci ramadhan dalam pelukan hati
Syukur pun menengadah untuk menyambutnya dalam rindu
Ramadhan yang mengajarkan tentang kesabaran pada umat manusia
Untuk menguatkan hati menjalani puasa dalam lapar dan haus dahaga
Demi membina hati menjadi insan dibalut kedewasaan iman yang tulus.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.  


Macet di Kota Besar
Hal biasa melihat kota besar digeliati dengan kemacetan
Melihat jalan raya yang tumpat oleh ragam jenis kendaraan
Menjalar dari segala sisi yang tak membiarkan siapapun untuk lewat
Kendaraan-kendaraan yang hanya bisa membunyikan kleksonnya sekeras petir menyambar
Memiliki niatan agar macet itu cepat merayap pergi
Tapi agaknya itu sangat mustahil
Bila egois yang menjadi pengendali dari kendaraan yang melaju itu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Kemana Perginya Engkau?
Kemana perginya engkau?
Yang tiba-tiba pergi tanp mengucapkan kata apapun
Kemana harus mencari mu?
Sudah ribuan meter kaki menapaki jalan agar bisa menemukan mu
Selama engkau hilang dari pandangan
Rindu mulai mencambuk ingin membuat diri ini rasanya mati
Pulanglah, tak usah pergi lagi.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.
Kumpulan Puisi XV

Kumpulan Puisi XV

Kebakaran Hutan
Negeri yang dianugerahi hutan melimpah
Katanya subur akan udara bersih untuk dinikmati siapapun
Menyehatkan dan menyejukkan dada yang menghirupnya
Tapi apalah daya itu hanya fatamorgana dari ilusi mimpi
Melihat hutan yang melimpah ruah itu hilang ditebang api
Berubah menjadi asap kentara tebal yang terbang kepenjuru negeri
Asap yang tebal itu hanya bisa mendatangkan penyakit
Pada mata yang menjadi perih dan dada seperti hendak hancur.


Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Mendung
Pada awan yang tampak mendung
Terlihat raut wajah sedih terpancar dari ketakutan
Oleh yang tiada lagi berpikir mendungnya awan itu pertanda membawa berkah
Semakin hitamnya awan itu mengumpul seperti hendak hujan
Terjadi kesibukan untuk mengamankan rumah dan kendaraannya
Agar tidak tertimbun hempasan air hujan dari awan mendung
Karena mendungnya langit pertanda banjirpun datang menjajah.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016. 


Klakson Berisik
Kurang lebar apa lagi soal jalan yang dibentang
Masih saja ada yang tak bisa lewat di jalan itu
Sana sini entah itu roda dua atau empat
Sibuk dengan suara klakson yang berisik
Terdengar kencang sekali seperti hendak merusak gendang telinga
Entah apa yang membuatnya jalan itu jadi macet
Mungkin karena terlalu banyak yang diam saat lampu sudah hijau.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Luasnya Hati
Dalam lautan kata yang tak ditemui dangkalnya
Meminta sama dengan hati meniru kata yang tak berujung ditatap
Untuk menerima segala luapan kisah yang menumpahinya
Berisikan untaian suka bersama pilu mengalir memenuhi isi hati
Deras hampir tak tertampung seutuhnya dalam palung kalbu
Hanya berdoa agar luasnya hati selebar kisah yang menyapa.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

 
Hujan
Tiada setetes pun langit menumpahkan hujan
Tanah tampak kering
Dan dalamnya sungai juga tak bertambah
Jatuhnya tiap tetes air yang serempak itu
Dari mendungnya awan yang menutupi sukanya hati
Sulit untuk menghindarkan dari kuyup yang membahasi pipi
Duduk menyendiri hanya ditemani genangan sedih
Karena kebahagiaan hanyut terbawa pilu bersama senyuman.

Beranda Sanggar Pelangi, 2016.

Thursday, November 2, 2017

Kumpulan Puisi XIV

Kumpulan Puisi XIV

Hujan
Terbangun saat hujan turun
Dengan lebatnya menghujam atap-atap yang keras
Suara ribut pun ikut bersautan dari hujan itu
Hingga televisi dan radio yang hidup tak lagi terdengar
Sebagai penanda bagi langkah kaki untuk segera keluar dari peraduan
Agar tetesan hujan yang deras itu bisa ditampung semuanya.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Gelap di Malam Buta
Ada cahaya yang kini menerangi setiap rumah yang berpenghuni
Cahaya yang hanya hidup di malam yang katanya gelap menakutkan
Dari cahaya itu rumah-rumah yang ada di perkotaan terang benderang
Sampai suara jangkrik yang ribut ketika malam ikut teredam dengan cahaya terang
Tetapi tidak dengan yang jauh dari kota masih hidup dalam gelap
Bercahaya minyak yang sumbunya dari kain lusu
Hidupnya pun tak lama hanya sampai mata ingin terpejam
Dan tak sebenderang seperti cahaya yang ada di kota
Hingga yang rumahnya masih gelap gulita
Memandang langit seperti berpakaian yang mewah
Dipenuhi seribu bintang yang mengeluarkan cahaya menembus rumah-rumah
Yang masih belum ada cahaya listrik.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Mengacuhkan Pertanyaan
Ada orang tersesat di jalan yang berbangunkan gedung yang hampir menjilat langit
Ingin bertanya pada siapapun yang ada di jalan
Tetapi saat bertanya semua yang di pelataran sedang sibuk sambil menunduk
Sibuk melihat jam, sibuk melihat hape, dan sibuk untuk menghapal tugas
Sampai-sampai yang ingin bertanya pun terabaikan
Dan ia hanya terbengong lalu berjalan ke arah yang tak dimengerti.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Ada Senyuman
Dibalik lelahnya mencari rezeki di jalan-jalan
Orang-orang ini masih bisa menyunggingkan senyumnya yang indah
Orang-orang yang bekerja memancul tanah, membangun gedung, dan mengais barang bekas
Dengan bermandikan keringat yang urat di tangannya tampak sangat besar sekali
Tidak terlihat lelah menerpa mereka yang ditepis dengan senyuman
Untuk mensyukuri hidup yang terus dijalani tanpa mengeluh.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Hujan
Dalam luasnya dataran hijau yang air sungainya penuh
Mendatangkan keamanan pada penghuni yang merawatnya
Tetapi saat musim kemarau panjang tiba menerpa
Dataran hijau itu ikut layu disembur panas matahari
Dan sungai-sungai yang airnya deras mengalir pun menjadi kering meronta
Orang-orang yang mendiami dataran hijau yang ada sungainya
Begitu kebingungan untuk mengembalikan lahan keringnya menjadi hijau
Juga memenuhi kembali sungainya dengan air yang merimpah ruah
Doa dan usaha pun dipanjatkan agar lekas hujan turun membantu mereke.

Beranda Sanggar Pelangi 2015.  


Jangan Tidur
Tak ada satupun dari rakyat yang hidupnya susah untuk tidur lama
Mereka bekerja demi menerpa panas dan melawan badai yang bisa mengubur mereka
Kerja keras yang membabi buta untuk melindungi keluarga yang hafal dengan penderitaan
Agar tak lagi keluarga yang disayangi menderita akan panas, lapar, dan kebodohan
Tidurnya rakyat yang hidupnya susah hanya sebentar saja
Tak lebih dari saat malam sudah sangat larut hingga matahari hendak bangun dipagi buta
Apa yang dibuat rakyat yang kesusahan itu dapat memberi garis cerah
Pada yang merasa telah terpilih untuk mengayomi mereka
Untuk jangan suka tidur lama apalagi saat membincangkan nasib mereka.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015. 


Perahu Kecil
Perahu kecil yang suka mengarungi lautan biru
Yang dikayuh oleh mereka yang masih muda raganya
Kayuhan perahu kecil itu yang membelah laut bukanlah untuk liburan mereka
Tapi untuk menangkap ikan yang bisa diangkut ke dalam perahu dengan jumlah yang tak seberapa
Ada banyak sekali bahaya yang bisa menimpa perahu kecil itu
Yang menjungkir balikkannya masuk ke dalam laut biru yang ganas
Dan menumpahkan semua ikan yang dicari masuk lagi berbaur dengan alamnya
Adalah yang diperbuat oleh orang yang raganya masih muda mengayuh perahu kecil itu
Tak lain untuk bisa dia dan keluarganya terus hidup tanpa kelaparan.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.  


Setangkai Mawar
Mawar yang harumnya wangi semerbak
Begitu dicari oleh siapa saja sebagai perlambang kebahagian
Rupa mawar yang setangkai begitu indah dan menawan
Dengan balutan warna merah pada kembang bunga yang mekar
Lalu dipagari oleh duri kecil agar tak sembarang boleh menyentuhnya
Setangkai mawar yang begitu sulit dicari
Membuat dikau begitu berharga dimata hampir setiap orang
Hingga siapapun yang memilikimu akan terus merawat dan menjaga
Agar tetap terus bermekar dan tidak layu.

Beranda Sanggar Pelangi, 2015.