Tuesday, September 19, 2017

Pitohui Selatan, Si Burung Beracun yang Bersuara Merdu

Bila ditanya tentang burung Pitohui Selatan mungkin masih terdengar asing di telinga para pembaca sekalian. Apalagi saat ditanyakan juga tentang habitat asli dan kemampuannya berkicau pun jawabannya pasti sangat sedikit yang mengetahuinya. Sedikit dijelaskan bahwa burung Pitohui Selatan dikenal mempunyai kicauan yang tak kalah merdu dan nyaring dibandingkan dengan jenis burung ocehan yang telah lama dikenal selama ini. Selain itu, burung ocehan ini pun juga dikenal sebagai burung beracun yang tak boleh sembarangan disentuh. Untuk itu pada artikel ini coba mengulas lebih mendalam tentang burung Pitohui Selatan agar semakin dikenal luas oleh para pembaca sekalian.

Burung Pitohui Selatan termasuk burung endemik yang daerah penyebarannya hanya terbatas di wilayah Pulau Papua dan sekitarnya. Daerah disekitaran Pulau Papua yang menjadi tempat tinggalnya tergolong cukup luas yang meliputi Kepala Burung Papua bagian barat, Kepulauan Papua barat, Pulau Papua dibgian selatan, area Teluk Papua, Kepulauan Aru, dan Pulau Papua dibagian tenggara. Area hutan yang dijadikan tempat tinggal oleh burung Pitohui Selatan biasanya yang masih lebat dan berada disekitaran dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian mencapai 1500 meter di atas permukaan laut. Selain itu, burung yang bertubuh besar ini tergolong sebagai burung penetap dan hidup dalam berkelompok. Sifat alaminya terkenal cukup pemalu dengan menghabiskan waktunya bersembunyi dibalik dedaunan pohon di hutan.
Gambar: Burung Pitohui Selatan
Ciri fisik burung yang bernama latin Pitohui uropygialis memiliki ukuran tubuh yang agak sedikit besar dengan panjang dapat mencapai 25 cm. Warna di tubuhnya hanya terdiri dari warna hitam dan cokelat kemerahan. Warna hitam tampak dibagian wajah, mahkota kepala, tenggorokan, dada atas sisi sayap atas, dan ekornya. Sedangkan warna cokelat kemerahan terlihat dibagian dada bawah, perut, tunggir, punggung, dan sisi depan atas sayapnya.

Selain itu, ciri lainya yang perlu diketahui dari burung Pitohui Selatan adalah warna paruh dan kakinya yang tampak berwarna hitam pekat. Paruhnya yang berwarna hitam pekat berukuran cukup panjang dan agak tebal. Ekornya pun memiliki ukuran yang lumayan panjang sekitaran 15 cm. Nah, sebagaimana disinggung pada paragraf awal bahwa dikatakan burung asal Papua ini memiliki racun di tubuhnya. Ya, racun tersebut terdapat dibagian bulu dan kulitnya berupa racun syaraf alkaloid. Racun tersebut mampu membuat siapapun akan merasakan gatal yang membuat area kulit terasa panas seperti terbakar. Dampak lainnya membuat kulit akan kesemutan dan tubuh seakan mati rasa atau lumpuh. Sehingga saat berjumpa burung Pitohui Selatan di alam liar tidak dianjurkan untuk menyentuhnya secara langsung tanpa dilindungi dengan sarung tangan.

Berbicara akan kicauannya dikatakan bahwa burung Pitohui Selatan memiliki suara yang merdu dan nyaring. Kicauannya mirip suara siulan yang tidak terlalu melengking tapi berirama dengan nada yang naik turun. Suara kicauannya pun terdengar agak mirip suara cegukan yang dibunyikan dengan nada tinggi yang berirama merdu dan bertempo cukup rapat. Karenanya, kicauan burung Pitohui Selatan dapat dijadikan suara masteran bagi burung ocehan yang hendak belajar berkicau.

Yup, demikianlah ulasan tentang burung Pitohui Selatan yang dikenal beracun tapi kicauannya amat merdu dan nyaring. Untuk itu bagi para pembaca sekalian yang tertarik dengan burung Pitohui Selatan tidak perlu memaksakan mencarinya di pasar burung cukup dengan mencari rekaman kicauannya yang terdapat diinternet. Selanjutnya, rekaman suara tersebut dapat disimpan sebagai koleksi ataupun bisa dijadikan suara masteran bagi burung ocehan Anda di rumah. Okey.

Sumber Tulisan:
1. https://omkicau.com/2016/06/02/cucak-rotan-burung-unik-asal-papua-yang-mulai-digandrungi-awas-hindari-kontak-langsung/
2. http://www.kutilang.or.id/2015/04/21/pitohui-selatan/

Sumber Gambar:
http://www.hbw.com/sites/default/files/styles/h_340/public/ibc/p/Pitohui_Variable_Southern_-001.JPG?itok=U8plDteG

0 komentar:

Post a Comment